Khutbah Jumaat Zulhijah 2026:
MERAIH PAHALA HAJI, TANPA KETANAH SUCI.
Oleh: Tgk. Ilham Mirsal, MA.
KHUTBAH PERTAMA.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ، الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَيَّامَ الْمَعْلُوْمَاتِ مَوْسِمًا لِلطَّاعَاتِ وَالْقُرُبَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِهِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّ بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa. Hari ini, kita berada di hari-hari awal bulan Zulhijjah yang mulia, waktu di mana jutaan saudara kita dari seluruh penjuru dunia sedang mulai bersiap menuju Tanah Suci, memenuhi panggilan Nabi Ibrahim AS.
Di saat gema talbiyah mulai terdengar di Baitullah, bagi kita yang saat ini masih duduk di atas sajadah masjid ini, mungkin ada setitik rasa rindu yang menyesak di dada. Ada air mata yang jatuh karena belum terpanggil mencium Hajar Aswad, atau ada kesedihan karena tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun belum juga cukup untuk berangkat.
Ketahuilah, wahai hati yang merindu, Allah Maha Melihat niatmu. Jika raga belum sampai ke Tanah Suci, biarlah jiwa kita yang berthawaf dalam ketaatan. Sebab, Allah tidak hanya berada di Ka’bah, tapi Allah juga sangat dekat dengan hati hamba-hamba-Nya yang berserah diri.
Jamaah yang Dimuliakan Allah,
Mari kita merenungkan sebuah kisah indah yang sarat hikmah tentang seorang ulama besar, Abdullah bin Mubarak. Suatu ketika, setelah beliau menyelesaikan rangkaian ibadah haji, beliau tertidur di Masjidil Haram. Dalam mimpinya, beliau melihat dua malaikat turun dari langit dan saling bercakap.
Malaikat pertama bertanya, "Berapa banyak orang yang datang haji tahun ini?"
Malaikat kedua menjawab, "Enam ratus ribu orang."
"Lalu, berapa banyak yang diterima hajinya?" tanya malaikat pertama lagi.
Malaikat kedua menarik napas dalam dan berkata, "Tidak ada satupun yang diterima hajinya, kecuali satu orang. Ia adalah seorang tukang sol sepatu dari Damaskus bernama Muwaffaq. Padahal, ia sendiri tidak datang ke Mekkah tahun ini."
Terperanjatlah Abdullah bin Mubarak. Beliau segera menuju Damaskus untuk mencari siapa pria misterius ini. Setelah bertemu, Muwaffaq menceritakan rahasianya sambil menangis pilu:
"Tiga puluh tahun aku menabung dari hasil sol sepatu untuk pergi haji. Saat uang sudah terkumpul 300 dirham, istriku yang sedang hamil mencium bau masakan dari rumah tetangga. Aku pergi ke sana untuk meminta sedikit makanan, namun tetanggaku berkata dengan pilu: 'Wahai saudaraku, makanan ini halal bagi kami tapi haram bagimu. Anak-anakku sudah tiga hari tidak makan, maka aku terpaksa memasak bangkai keledai ini demi menyambung nyawa mereka.'"
Mendengar kondisi memilukan itu, bergetarlah hati Muwaffaq. Ia langsung menyerahkan seluruh uang tabungan hajinya kepada tetangga tersebut seraya berkata, "Gunakanlah uang ini untuk anak-anakmu. Hajiku ada di depan pintu rumahmu."
Jamaah Sekalian yang Berbahagia,
Inilah hikmah yang sangat agung. Terkadang, Allah menguji kita dengan menunda keberangkatan ke Baitullah, agar kita bisa melihat "Baitullah" yang lain dalam wujud manusia-manusia yang menderita di sekitar kita. Mengalahkan ego untuk mengejar gelar "Haji" demi menolong sesama yang kelaparan adalah ibadah yang luar biasa di sisi Allah. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma'un ayat 1-3:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ﴿١﴾ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ﴿٢﴾ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ ﴿٣﴾
"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin."
Jamaah yang Dimuliakan Allah,
Bagi kita yang belum berangkat ke Tanah Suci, Allah yang Maha Pemurah tidak menutup pintu rahmat-Nya. Melalui lisan Rasulullah SAW, Allah telah menyediakan "pintu-pintu darurat" amalan sosial maupun ritual yang nilainya setara dengan pahala haji dan umrah. Di antaranya adalah:
1. Berbakti kepada Kedua Orang Tua (Birrul Walidain)
Rasulullah SAW bersabda kepada seseorang yang ingin berjihad namun masih memiliki orang tua:
أَنْتَ حَاجٌّ وَمُعْتَمِرٌ وَمُجَاهِدٌ إِذَا بَرَرْتَ أُمَّكَ
"Engkau adalah orang yang melakukan haji, orang yang melakukan umrah, dan orang yang berjihad (jika engkau berbakti kepada ibumu)." (HR. Abu Ya’la).
2. Melaksanakan Shalat Wajib Berjamaah di Masjid
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ
"Siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci menuju shalat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji dalam keadaan ihram." (HR. Abu Dawud).
3. Berdzikir Setelah Shalat Subuh Berjamaah hingga Terbit Matahari (Shalat Isyraq)
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ
"Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu shalat dua rakaat (Isyraq), maka ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna." (HR. Tirmidzi).
4. Menghadiri Majelis Ilmu di Masjid untuk Belajar atau Mengajar
Ini adalah amalan tambahan yang sangat besar pahalanya. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامٍّ حَجَّتُهُ
"Siapa yang berangkat ke masjid, tidak ada yang ia inginkan kecuali untuk mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang menunaikan haji secara sempurna." (HR. Thabrani).
5. Membantu dan Memenuhi Kebutuhan Saudara Sesama Muslim
Imam Hasan al-Basri menyatakan bahwa melangkah untuk memenuhi kebutuhan seorang saudara muslim itu lebih aku sukai daripada ibadah haji setelah haji (haji sunnah). Hal ini sejalan dengan spirit pengorbanan Sahabat Muwaffaq.
Oleh karena itu, di bulan Zulhijjah ini, janganlah kita berkecil hati. Momentum ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk menyembelih ego, menyembelih sifat kikir, dan menghidupkan rasa kemanusiaan dengan membantu sesama.
Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah,
Di akhir khutbah ini, mari kita yakinkan diri kita bahwa jalan menuju ridha Allah sangatlah luas. Jika tahun ini kita belum bisa memandang Ka'bah secara langsung, mari kita hiasi hari-hari sepuluh pertama Zulhijjah ini dengan memperbanyak takbir, tahmid, tahlil, sedekah, serta memperbanyak kepedulian kepada anak-anak yatim dan fakir miskin di sekitar kita. Mudah-mudahan Allah mencatat niat ikhlas kita setara dengan pahala ibadah haji yang mabrur.
Mari kita menundukkan kepala, memohon ampunan dan keberkahan dari Allah SWT:
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.
*اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِك عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. قَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ.
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا زِيَارَةَ بَيْتِكَ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ نَبِيِّكَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِلْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ مِرَارًا وَتِكْرَارًا بِفَضْلِكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَرْحَمُ الْعِبَادَ لِتَرْحَمَنَا فِي الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ!
