Thursday, May 28, 2026

KHUTBAH JUM’AT: MENGHIDUPKAN HATI DENGAN SURAH YASIN.

KHUTBAH JUM’AT: MENGHIDUPKAN HATI DENGAN SURAH YASIN. 


Oleh: Tgk. Ilham Mirsal, MA

(Ayah Ilham). 


Khutbah Pertama

الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له…


Segala puji bagi Allah Rabbul ‘Alamin, yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai cahaya, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman. Shalawat dan salam ke atas junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, sahabat dan pengikut setia hingga hari kiamat.


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,


Di antara surah yang sangat dikenal dan dicintai oleh umat Islam adalah Surah Yasin. Surah ini memiliki kedalaman makna, kekuatan hujjah, dan kisah-kisah hikmah yang membangunkan hati.

Para ulama menyebutkan bahwa Yasin adalah jantung Al-Qur’an, sesuai riwayat:


إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا وَقَلْبُ الْقُرْآنِ يَسۤ

“Sesungguhnya segala sesuatu itu memiliki hati, dan hatinya Al-Qur’an adalah Surah Yasin.”


Dan pada riwayat lain disebutkan:


مَنْ قَرَأَ (يٰس) فِيْ لَيْلَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ غُفِرَ لَهُ

“Barang siapa membaca Yasin pada suatu malam dengan mengharap wajah Allah, maka akan diampuni baginya.” (HR. Ad-Darimi). 


Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه pernah berharap:


“Seandainya Surah Yasin itu tertanam kuat dalam hati setiap orang dari umatku.”


Ini menunjukkan betapa para sahabat sangat mengagumi kandungan surah ini dan ingin umat menjadikannya bagian dari kehidupan.


Hadirin yang dimuliakan Allah,

Surah Yasin bukan hanya tentang pahala dan amalan, tetapi juga isi dan pesannya sangat kuat, antara lain:


1. Kisah Habib an-Najjar


Dalam ayat 13–26, Allah kisahkan seorang lelaki beriman dari sebuah kota yang membela para rasul, menyeru kaumnya untuk kembali kepada tauhid, hingga ia wafat dalam keadaan beriman. Allah berfirman setelah ia gugur:


قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۖ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ


“Dikatakan kepadanya: Masuklah ke dalam surga. Ia berkata: Alangkah baiknya jika kaumku mengetahui.” (Yasin: 26).


Ini pelajaran tentang dakwah, pengorbanan, dan keikhlasan di jalan Allah.


2. Perlindungan Allah atas Kekasih-Nya. 


Dalam ayat 9 disebutkan bagaimana Allah mampu menghalangi penglihatan kaum musyrik, sebagaimana terjadi saat Rasulullah ﷺ dikepung oleh kaum Quraisy. Allah berfirman:


فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ

“…maka mereka tidak dapat melihat.”


Ini menjadi pelajaran bahwa siapa yang bersama Allah, tidak ada yang mampu mencelakakannya.


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kandungan Surah Yasin begitu luas. Namun, setidaknya ada hikmah praktis bagi kehidupan seorang muslim:


‌1. Mendapat pahala besar, karena membaca Al-Qur’an adalah ibadah.

‌2. Perantara ampunan dosa, sebagaimana dalam riwayat para ulama.

‌3. Memberikan ketenangan hati, karena Al-Qur’an adalah penyembuh jiwa.

‌4. Memudahkan hajat, sebagaimana amalan para salihin di berbagai negeri.

‌5. Meringankan sakaratul maut, berdasarkan pengalaman ulama salaf dalam mendampingi orang wafat.

‌7. Menguatkan iman, karena di dalamnya terdapat tauhid, kisah, peringatan, dan janji Allah.

‌8. Mengingatkan tentang hari kebangkitan dan akhirat, sehingga muslim tidak lalai.


Inilah mengapa Surah Yasin sering dijadikan amalan malam, dibaca pada majelis dzikir, untuk mendoakan jenazah, atau memperkuat rohani ketika menghadapi ujian hidup.


Hadirin yang dimuliakan Allah,

Surah Yasin juga menegaskan tauhid, menolak kemusyrikan, dan menguatkan risalah Nabi Muhammad ﷺ. Maka dari itu, membaca Yasin bukan hanya ritual, tetapi menghidupkan pesan Al-Qur’an dalam hidup:


‌Menjaga aqidah dan tauhid

‌Mengikuti risalah Nabi

‌Menjaga amal dan akhlak

‌Tidak terpedaya oleh dunia

‌Sadar akan kematian dan hisab


Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang dekat dengan Al-Qur’an, khususnya Surah Yasin, bukan hanya dibaca lisan, tetapi hidup dalam hati dan diamalkan dalam perbuatan. 


Kaum muslimin rahimakumullah,

Di kesempatan yang mulia ini, mari kita memohon kepada Allah agar diberikan kecintaan kepada Al-Qur’an, agar hati kita lembut, agar iman kita kokoh, dan agar amal kita diterima oleh Allah سبحانه وتعالى.


Marilah kita memperbanyak membaca Surah Yasin dan seluruh bagian Al-Qur’an, mengajarkannya kepada keluarga, serta menjadikannya jalan mendekat kepada Allah.


آمين.

أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم فاستغفروه…


Khutbah Kedua

الحمد لله، حمدًا كثيرًا كما أمر…


اللهم اجعل القرآن ربيع قلوبنا ونور صدورنا وجلاء أحزاننا…

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات…

عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان…

فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.


Sunday, May 24, 2026

Khutbah Jumaat Ramadhan: Memerdekakan Rohani dari Penjajahan Jasmani melalui Ibadah Puasa.

Memerdekakan Rohani dari Penjajahan Jasmani melalui Ibadah Puasa.



Oleh: Tgk. Ilham Mirsal, MA

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ الصِّيَامَ جُنَّةً مِنَ النَّارِ، وَسَبَبًا لِنَيْلِ الْفَوْزِ وَالْجَنَّةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah SWT,

Pertama-tama, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad SAW.

Jamaah yang Dimuliakan Allah,

Siapa yang Mengatur Hidup Kita?
Ada sebuah ungkapan bijak yang sering kali kita dengar dalam kehidupan sehari-hari: "Makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang."
Namun, mari kita renungkan sejenak secara jujur: selama ini, apa yang sebenarnya menggerakkan kita untuk makan dalam keseharian? Umumnya, kita akan menjawab spontan, "Ya, karena kita lapar."

Jika kita makan melulu hanya karena dorongan lapar, pertanyaannya: di manakah rasa lapar itu muncul? Jawabannya jelas, di perut kita. Lalu, atas perintah siapa sebenarnya kita melangkahkan kaki mencari makanan? Atas perintah perut kita sendiri.

Jika demikian polanya, maka manusia, makhluk mulia yang diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah di muka bumi, ternyata diam-diam telah tunduk, taat, dan terjajah oleh perutnya sendiri. Manusia diatur oleh perutnya, bukan manusia yang mengatur perutnya. Di sinilah terjadi ketimpangan, di mana aspek jasmani manusia menyetir aspek rohaninya; badan mengatur jiwanya.

Puasa sebagai Momentum Kemerdekaan

Jamaah Shalat Jumat yang Berbahagia,
Ibadah puasa yang diperintahkan oleh Allah SWT hadir sebagai sebuah revolusi spiritual untuk membalikkan keadaan terjajah tersebut. Puasa adalah momentum proklamasi kemerdekaan jiwa manusia. Ada tiga hal mendasar mengapa puasa disebut sebagai momentum kemerdekaan:

1. Menekan Jasmani, Mengedepankan Rohani.

Saat siang hari berpuasa, perut kita berteriak kelaparan dan tenggorokan terasa kering karena kehausan. Makanan dan minuman yang halal ada di depan mata kita, namun kita tidak serta-merta menyantapnya. Mengapa? Karena pada saat itu, kita sedang mengedepankan kendali rohani demi menekan syahwat jasmani.

2. Kemerdekaan Diri yang Hakiki.

Orang yang berpuasa adalah orang yang merdeka dalam arti yang sesungguhnya. Ia mampu melepaskan diri dari himpitan dan dikte kebutuhan biologisnya. Melalui puasa, kita seolah-olah berkata dengan tegas kepada kedirian kita:
"Aku yang mengaturmu wahai jasmaniku, bukan engkau yang menjajah dan mengatur aku!"

3. Memahami Substansi Puasa.

Puasa bukanlah sekadar ritual tahunan "ecek-ecek" atau rutinitas tanpa makna yang sekadar memindahkan jam makan dari Subuh ke Magrib. Substansi terdalam dari ibadah puasa adalah memerdekakan rohani dari belenggu jasmani, agar kita bisa meraih puncak kebahagiaan sejati. Kebahagiaan ini digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
"Bagi orang yang berpuasa mardapat dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika ia berbuka, dan kebahagiaan ketika ia berjumpa dengan Tuhannya." (HR. Bukhari & Muslim).

Tiga Tugas Utama Manusia dalam Eksistensinya.

Jika kita kaitkan dengan nilai-nilai keislaman dan eksistensi manusia, puasa mengembalikan kita pada tiga tugas utama penciptaan kita:

1. Memanusiakan Manusia (Insan).

Secara bahasa, kata Insan (إِنْسَان) di antaranya berakar dari kata yang mencerminkan kelemahlembutan, kepekaan, dan kasih sayang. Hakikat kemanusiaan yang penuh empati ini hanya bisa dicapai oleh manusia yang otonom dan independen, mereka yang jiwanya tidak dijajah oleh jasmaninya. Orang yang sanggup menahan laparnya ego, akan peka terhadap laparnya tetangga.

2. Mewujudkan Eksistensi sebagai Makhluk Terbaik.

Allah SWT berfirman mengenai awal mula penciptaan manusia:
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا
"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya..." (QS. Al-Baqarah: 31).

Ayat ini mengisyaratkan bahwa Adam diajarkan al-asma, yang dalam konteks modern mencakup entitas, algoritma, serta mindset (sistem berpikir). Manusia menjadi mulia dan dihormati oleh malaikat bukan karena kekuatan fisiknya, melainkan karena sistem berpikir, nalar, dan ketakwaannya.

Puasa membangun keteraturan sistem berpikir tersebut (management mindset). Kita belajar menggabungkan dua dimensi perjuangan sekaligus: Jihad Ashghar (jihad kecil, yaitu mencari nafkah dan bekerja keras secara fisik) dan Jihad Akbar (jihad besar, yaitu melawan hawa nafsu kedirian kita).

3. Kemampuan Beradaptasi dengan Nilai Moral.

Perbedaan mendasar antara manusia dengan hewan terletak pada nilai, etika, dan moralitas. Jika orientasi hidup kita dari pagi hingga malam hanya urusan isi perut dan di bawah perut, maka apa bedanya manusia dengan makhluk lainnya?

Manusia yang merdeka harus mampu beradaptasi dengan situasi spiritual: mengubah lapar menjadi ketenangan zikir, dan mengubah lelahnya raga menjadi semangat ibadah. Sejarah mencatat, Rasulullah SAW dan para sahabat meraih kemenangan besar dalam Perang Badar justru dalam keadaan berpuasa. Keterbatasan fisik tidak memperlemah mereka, karena rohani mereka telah merdeka dan diperkuat oleh Allah SWT.

Zaman yang Menjadikan Perut sebagai "Imam"

Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah,
Kita harus waspada, sebab ada sebuah peringatan keras dari Rasulullah SAW mengenai penyakit akhir zaman. Beliau menggambarkan suatu kondisi masyarakat yang rusak karena hilangnya kemerdekaan rohani. Rasulullah SAW bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ بٌطُونُهُمْ آلِهَتُهُمْ وَنِسَاؤُهُمْ قِبْلَتُهُمْ وَدَنَانِيرُهُمْ دِينُهُمْ وَشَرَفُهُمْ مَتَاعُهُمْ

"Akan datang suatu zaman kepada manusia, di mana perut-perut mereka menjadi tuhan-tuhan mereka (tujuan hidup hanya perut), wanita-wanita mereka menjadi kiblat mereka, dinar-dinar (harta) mereka menjadi agama mereka, dan kehormatan mereka adalah dunia mereka." (Dalam riwayat lain disebutkan: وَإِمَامُهُمْ بُطُوْنُهُمْ / "dan imam mereka adalah perut mereka").

Apapun profesi kita saat ini, baik sebagai pejabat, pedagang, dosen, petani, buruh, maupun dokter, jika orientasi dan tujuan akhir dari seluruh keringat yang keluar hanyalah demi memuaskan isi perut, maka kita sedang berada dalam ancaman kehancuran moral dan spiritual. Puasa hadir setahun sekali sebagai rem darurat untuk menyelamatkan kita dari kondisi yang memprihatinkan ini.

Penutup & Kesimpulan.

Sebagai kesimpulan khutbah kita pada hari ini, mari kita camkan baik-baik bahwa puasa adalah sebuah gerakan pembebasan. Ia adalah pembebasan rohani yang suci dari penjara jasmani yang fana.

Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita kesadaran kolektif, bahwa puasa adalah ibadah luar biasa yang langsung menghubungkan kita dengan Allah SWT melalui madrasah pengendalian diri yang hakiki.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَدْبُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيْمًا: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ صِيَامَنَا صِيَامًا مَقْبُوْلًا، وَقِيَامَنَا قِيَامًا مَقْبُوْلًا. اَللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى كَسْرِ شَهَوَاتِنَا، وَمُقَاوَمَةِ أَهْوَائِنَا، حَتَّى تَكُوْنَ رُوْحُنَا حُرَّةً طَاهِرَةً مُتَّصِلَةً بِكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ!

Thursday, May 21, 2026

Khutbah Jumaat Zulhijah 2026: MERAIH PAHALA HAJI, TANPA KETANAH SUCI.

Khutbah Jumaat Zulhijah 2026:

MERAIH PAHALA HAJI, TANPA KETANAH SUCI. 


Oleh: Tgk. Ilham Mirsal, MA. 


KHUTBAH PERTAMA. 


الْحَمْدُ لِلّٰهِ، الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَيَّامَ الْمَعْلُوْمَاتِ مَوْسِمًا لِلطَّاعَاتِ وَالْقُرُبَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِهِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّ بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.


Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah,


Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa. Hari ini, kita berada di hari-hari awal bulan Zulhijjah yang mulia, waktu di mana jutaan saudara kita dari seluruh penjuru dunia sedang mulai bersiap menuju Tanah Suci, memenuhi panggilan Nabi Ibrahim AS.


Di saat gema talbiyah mulai terdengar di Baitullah, bagi kita yang saat ini masih duduk di atas sajadah masjid ini, mungkin ada setitik rasa rindu yang menyesak di dada. Ada air mata yang jatuh karena belum terpanggil mencium Hajar Aswad, atau ada kesedihan karena tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun belum juga cukup untuk berangkat.


Ketahuilah, wahai hati yang merindu, Allah Maha Melihat niatmu. Jika raga belum sampai ke Tanah Suci, biarlah jiwa kita yang berthawaf dalam ketaatan. Sebab, Allah tidak hanya berada di Ka’bah, tapi Allah juga sangat dekat dengan hati hamba-hamba-Nya yang berserah diri.


Jamaah yang Dimuliakan Allah,


Mari kita merenungkan sebuah kisah indah yang sarat hikmah tentang seorang ulama besar, Abdullah bin Mubarak. Suatu ketika, setelah beliau menyelesaikan rangkaian ibadah haji, beliau tertidur di Masjidil Haram. Dalam mimpinya, beliau melihat dua malaikat turun dari langit dan saling bercakap.


Malaikat pertama bertanya, "Berapa banyak orang yang datang haji tahun ini?"

Malaikat kedua menjawab, "Enam ratus ribu orang."

"Lalu, berapa banyak yang diterima hajinya?" tanya malaikat pertama lagi.


Malaikat kedua menarik napas dalam dan berkata, "Tidak ada satupun yang diterima hajinya, kecuali satu orang. Ia adalah seorang tukang sol sepatu dari Damaskus bernama Muwaffaq. Padahal, ia sendiri tidak datang ke Mekkah tahun ini."


Terperanjatlah Abdullah bin Mubarak. Beliau segera menuju Damaskus untuk mencari siapa pria misterius ini. Setelah bertemu, Muwaffaq menceritakan rahasianya sambil menangis pilu:


"Tiga puluh tahun aku menabung dari hasil sol sepatu untuk pergi haji. Saat uang sudah terkumpul 300 dirham, istriku yang sedang hamil mencium bau masakan dari rumah tetangga. Aku pergi ke sana untuk meminta sedikit makanan, namun tetanggaku berkata dengan pilu: 'Wahai saudaraku, makanan ini halal bagi kami tapi haram bagimu. Anak-anakku sudah tiga hari tidak makan, maka aku terpaksa memasak bangkai keledai ini demi menyambung nyawa mereka.'"


Mendengar kondisi memilukan itu, bergetarlah hati Muwaffaq. Ia langsung menyerahkan seluruh uang tabungan hajinya kepada tetangga tersebut seraya berkata, "Gunakanlah uang ini untuk anak-anakmu. Hajiku ada di depan pintu rumahmu."


Jamaah Sekalian yang Berbahagia,


Inilah hikmah yang sangat agung. Terkadang, Allah menguji kita dengan menunda keberangkatan ke Baitullah, agar kita bisa melihat "Baitullah" yang lain dalam wujud manusia-manusia yang menderita di sekitar kita. Mengalahkan ego untuk mengejar gelar "Haji" demi menolong sesama yang kelaparan adalah ibadah yang luar biasa di sisi Allah. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma'un ayat 1-3:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ﴿١﴾ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ﴿٢﴾ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ ﴿٣﴾  


"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin."  


Jamaah yang Dimuliakan Allah,

Bagi kita yang belum berangkat ke Tanah Suci, Allah yang Maha Pemurah tidak menutup pintu rahmat-Nya. Melalui lisan Rasulullah SAW, Allah telah menyediakan "pintu-pintu darurat" amalan sosial maupun ritual yang nilainya setara dengan pahala haji dan umrah. Di antaranya adalah:


1. Berbakti kepada Kedua Orang Tua (Birrul Walidain)

Rasulullah SAW bersabda kepada seseorang yang ingin berjihad namun masih memiliki orang tua:

أَنْتَ حَاجٌّ وَمُعْتَمِرٌ وَمُجَاهِدٌ إِذَا بَرَرْتَ أُمَّكَ

"Engkau adalah orang yang melakukan haji, orang yang melakukan umrah, dan orang yang berjihad (jika engkau berbakti kepada ibumu)." (HR. Abu Ya’la).


2. Melaksanakan Shalat Wajib Berjamaah di Masjid

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ

"Siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci menuju shalat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji dalam keadaan ihram." (HR. Abu Dawud).


3. Berdzikir Setelah Shalat Subuh Berjamaah hingga Terbit Matahari (Shalat Isyraq)

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

"Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu shalat dua rakaat (Isyraq), maka ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna." (HR. Tirmidzi).


4. Menghadiri Majelis Ilmu di Masjid untuk Belajar atau Mengajar

Ini adalah amalan tambahan yang sangat besar pahalanya. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامٍّ حَجَّتُهُ

"Siapa yang berangkat ke masjid, tidak ada yang ia inginkan kecuali untuk mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang menunaikan haji secara sempurna." (HR. Thabrani).


5. Membantu dan Memenuhi Kebutuhan Saudara Sesama Muslim

Imam Hasan al-Basri menyatakan bahwa melangkah untuk memenuhi kebutuhan seorang saudara muslim itu lebih aku sukai daripada ibadah haji setelah haji (haji sunnah). Hal ini sejalan dengan spirit pengorbanan Sahabat Muwaffaq.


Oleh karena itu, di bulan Zulhijjah ini, janganlah kita berkecil hati. Momentum ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk menyembelih ego, menyembelih sifat kikir, dan menghidupkan rasa kemanusiaan dengan membantu sesama.


Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah,


Di akhir khutbah ini, mari kita yakinkan diri kita bahwa jalan menuju ridha Allah sangatlah luas. Jika tahun ini kita belum bisa memandang Ka'bah secara langsung, mari kita hiasi hari-hari sepuluh pertama Zulhijjah ini dengan memperbanyak takbir, tahmid, tahlil, sedekah, serta memperbanyak kepedulian kepada anak-anak yatim dan fakir miskin di sekitar kita. Mudah-mudahan Allah mencatat niat ikhlas kita setara dengan pahala ibadah haji yang mabrur.


Mari kita menundukkan kepala, memohon ampunan dan keberkahan dari Allah SWT:


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.



KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.

*اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِك عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. قَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.


اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ.

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا زِيَارَةَ بَيْتِكَ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ نَبِيِّكَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِلْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ مِرَارًا وَتِكْرَارًا بِفَضْلِكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَرْحَمُ الْعِبَادَ لِتَرْحَمَنَا فِي الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ!