Monday, November 2, 2026

KHUTBAH JUM'AT DI ANTARA DUA HARAPAN Jangan Gantungkan Hatimu kepada Makhluk, Gantungkanlah kepada Allah

KHUTBAH JUM'AT

DI ANTARA DUA HARAPAN

Jangan Gantungkan Hatimu kepada Makhluk, Gantungkanlah kepada Allah

Oleh: Tgk. Ilham Mirsal, MA



KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ، وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.


Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah.

Marilah kita awali pertemuan Jumat yang penuh berkah ini dengan memperbanyak puji dan syukur ke hadirat Allah SWT. Atas izin, rahmat, dan kasih sayang-Nya, kita masih diberikan kesempatan untuk melangkahkan kaki menuju rumah Allah, menunaikan kewajiban salat Jumat, serta berkumpul dalam majelis yang insyaallah dipenuhi keberkahan.

Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman.

Khatib mengingatkan diri pribadi dan mengajak seluruh jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Sebab, sebaik-baik bekal dalam perjalanan hidup yang singkat ini bukanlah harta yang banyak, jabatan yang tinggi, atau kedudukan yang terhormat, melainkan iman dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Pada kesempatan Jumat ini, izinkan khatib menyampaikan sebuah renungan dengan tema:

DI ANTARA DUA HARAPAN: KEPADA SIAPA HATI KITA BERSANDAR?

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Setiap manusia hidup dengan harapan.

Orang tua berharap anak-anaknya menjadi saleh dan berhasil. Seorang suami berharap keluarganya hidup bahagia. Seorang pedagang berharap dagangannya laris. Seorang petani berharap hasil panennya berhasil. Orang yang sedang sakit berharap kesembuhan. Orang yang sedang menghadapi kesulitan berharap ada jalan keluar.

Bahkan orang yang hari ini terlihat tersenyum, belum tentu hatinya sedang baik-baik saja. Bisa jadi di balik senyumnya tersimpan persoalan yang tidak diketahui orang lain.

Kita semua mempunyai harapan. Namun, ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama:

Kepada siapa sebenarnya kita menggantungkan harapan itu?

Kepada Allah, atau kepada manusia?

Kepada Zat yang memiliki segala sesuatu, atau kepada makhluk yang sesungguhnya juga membutuhkan pertolongan Allah?

Jamaah yang dirahmati Allah.

Ada sebuah kisah hikmah yang dinukil dalam literatur kisah-kisah klasik tentang seorang perempuan kaya bernama Ummu Ja'far. Ia dikenal sangat dermawan dan suka memberikan sedekah kepada orang-orang miskin.

Pada suatu hari, ada dua orang pengemis buta yang setiap hari menunggu di jalan yang biasa dilalui Ummu Ja'far.

Keduanya sama-sama membutuhkan pertolongan. Keduanya sama-sama berharap mendapatkan rezeki. Tetapi ada perbedaan dalam cara mereka menggantungkan harapan.

Pengemis pertama selalu berdoa:

"Ya Allah, berikanlah kepadaku rezeki dari kemurahan dan karunia-Mu."

Sementara pengemis kedua berdoa:

"Ya Allah, berikanlah kepadaku rezeki melalui kemurahan Ummu Ja'far."

Mendengar doa keduanya, Ummu Ja'far memberikan sedekah dengan cara yang berbeda.

Kepada pengemis pertama, ia memberikan dua dinar.

Kepada pengemis kedua, ia memberikan dua buah roti dan seekor ayam panggang. Namun, tanpa diketahui pengemis tersebut, di dalam ayam panggang itu diselipkan uang sepuluh dinar.

Karena tidak mengetahui adanya uang tersebut, pengemis kedua menganggap pemberian itu hanya makanan biasa. Ia kemudian menawarkan roti dan ayam panggang tersebut kepada pengemis pertama dengan harga dua dinar.

Pengemis pertama pun membelinya.

Kejadian itu berlangsung selama sepuluh hari. Setiap hari pengemis pertama menerima dua dinar dari Ummu Ja'far, lalu membeli makanan dari pengemis kedua seharga dua dinar. Sementara pengemis kedua tidak pernah menyadari bahwa di dalam setiap ayam panggang terdapat uang sepuluh dinar.

Setelah sepuluh hari, Ummu Ja'far menemui pengemis kedua dan bertanya:

"Apakah engkau puas dengan pemberian yang selama ini kami berikan?"

Pengemis itu menjawab, "Pemberian apa? Setiap hari saya hanya mendapatkan roti dan ayam panggang, lalu saya jual kepada teman saya seharga dua dinar."

Ummu Ja'far terkejut. Ia kemudian menjelaskan bahwa setiap hari sesungguhnya pengemis itu telah menerima sepuluh dinar yang disembunyikan di dalam ayam panggang.

Lalu ia berkata bahwa pengemis pertama mendapatkan rezeki yang lebih besar karena ia menggantungkan harapannya kepada Allah.

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Kisah ini bukanlah dalil untuk mengukur besar kecilnya rezeki seseorang berdasarkan satu bentuk doa. Tetapi ada hikmah yang sangat dalam untuk kita renungkan.

Jangan sampai kita hanya melihat tangan manusia yang memberi, tetapi melupakan Allah yang menggerakkan tangan tersebut.

Jangan sampai kita terlalu berharap kepada seseorang, lalu lupa bahwa orang itu sendiri tidak memiliki apa-apa tanpa izin Allah.

Manusia hanya perantara. Allah-lah yang menentukan.

Orang kaya bisa menjadi perantara rezeki kita, tetapi bukan pemilik mutlak rezeki kita.

Pejabat bisa menjadi perantara kemudahan urusan kita, tetapi bukan pemilik segala keputusan.

Saudara, sahabat, dan keluarga bisa membantu kita, tetapi mereka semua adalah makhluk yang juga membutuhkan pertolongan Allah.

Karena itu, jangan pernah menjadikan manusia sebagai tempat bergantungnya hati.

Jamaah yang dimuliakan Allah.

Rasulullah SAW menyampaikan sebuah hadis qudsi yang sangat agung. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي.

Artinya:

"Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku."

(HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah pelajaran besar bagi kehidupan kita.

Ketika kita berprasangka baik kepada Allah, jangan pernah merasa bahwa doa kita sia-sia.

Ketika kita sedang kesulitan, jangan mengira bahwa Allah meninggalkan kita.

Ketika pertolongan belum datang, jangan terburu-buru mengatakan bahwa Allah tidak mendengar doa kita.

Boleh jadi, apa yang kita minta belum diberikan karena waktunya belum tepat.

Boleh jadi, apa yang kita inginkan tidak diberikan karena Allah mengetahui bahwa sesuatu itu tidak baik bagi kehidupan kita.

Dan boleh jadi pula, Allah sedang menguji sejauh mana kesungguhan iman dan ketergantungan kita kepada-Nya.

Ingatlah, tidak semua doa dijawab dengan cara yang kita inginkan. Tetapi tidak ada doa yang sungguh-sungguh dipanjatkan kepada Allah yang luput dari pengetahuan-Nya.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Ada satu penyakit hati yang kadang tidak kita sadari.

Ketika mempunyai masalah, kita lebih dahulu mengingat seseorang daripada mengingat Allah.

Ketika membutuhkan pertolongan, pikiran kita langsung tertuju kepada kerabat yang kaya, sahabat yang memiliki jabatan, atau orang yang dianggap mampu menyelesaikan urusan kita.

Kita sibuk mencari nomor telepon manusia, tetapi terkadang lupa mengangkat kedua tangan untuk berdoa kepada Allah.

Kita begitu gelisah ketika pesan kita tidak dibalas manusia, tetapi tidak merasa gelisah ketika berhari-hari tidak berdoa kepada Allah.

Kita merasa kecewa ketika manusia tidak memenuhi harapan kita, tetapi sering tidak menyadari betapa banyak nikmat Allah yang telah kita terima setiap hari.

Bukan berarti kita tidak boleh meminta bantuan kepada manusia. Islam mengajarkan kita untuk saling menolong. Kita boleh bekerja, berusaha, berikhtiar, meminta bantuan keluarga, dan menjalin hubungan baik dengan sesama.

Namun, jangan sampai hati kita bergantung sepenuhnya kepada mereka.

Sebab, manusia bisa berubah. Hari ini ia mampu membantu, besok mungkin ia sendiri membutuhkan bantuan.

Hari ini ia dekat dengan kita, besok mungkin ia menjauh.

Hari ini ia menjanjikan pertolongan, tetapi belum tentu ia mampu menepatinya.

Sedangkan Allah tidak pernah lemah, tidak pernah lalai, dan tidak pernah kehabisan cara untuk menolong hamba-Nya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Insyirah ayat 5 sampai 8:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ۝ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ.

Artinya:

"Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap."

(QS. Al-Insyirah: 5–8).

Perhatikanlah ayat terakhir tersebut:

وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ

"Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap."

Inilah pesan yang harus tertanam dalam hati kita.

Setelah berusaha, berharaplah kepada Allah.

Setelah bekerja, bertawakallah kepada Allah.

Setelah berdoa, serahkanlah hasilnya kepada Allah.

Jangan berhenti berusaha hanya karena pertolongan belum datang. Jangan berhenti berdoa hanya karena permintaan belum dikabulkan.

Sebab, tugas kita adalah berikhtiar dan beribadah, sedangkan hasil akhir berada dalam ketentuan Allah SWT.

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Ada satu lagi ayat yang sangat penting untuk kita jadikan pegangan dalam kehidupan.

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Artinya:

"Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya."

(QS. At-Talaq: 3).

Betapa indah janji Allah ini.

Allah tidak mengatakan bahwa orang yang bertawakal tidak akan menghadapi masalah. Allah tidak menjanjikan bahwa orang yang beriman tidak akan pernah mengalami kesulitan.

Tetapi Allah menjanjikan kecukupan bagi hamba yang bertawakal kepada-Nya.

Mungkin kecukupan itu berupa harta. Mungkin berupa kesehatan. Mungkin berupa ketenangan hati. Mungkin pula berupa kekuatan untuk menghadapi ujian yang tidak mampu kita hindari.

Terkadang, kita meminta agar Allah menghilangkan masalah, tetapi Allah justru memberikan kekuatan agar kita mampu melewatinya.

Terkadang, kita meminta agar Allah mengubah keadaan, tetapi Allah terlebih dahulu mengubah hati kita agar lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih dekat kepada-Nya.

Jamaah yang dimuliakan Allah.

Marilah kita periksa kembali hati kita masing-masing.

Apakah selama ini kita lebih banyak menggantungkan harapan kepada Allah atau kepada manusia?


Apakah ketika menghadapi kesulitan, kita semakin dekat dengan Allah atau justru semakin jauh dari-Nya?

Apakah ketika mendapatkan rezeki, kita bersyukur kepada Allah atau hanya berterima kasih kepada orang yang menjadi perantaranya?


Jangan sampai kita menjadi orang yang hanya mencari Allah ketika terdesak, tetapi melupakan-Nya ketika hidup sedang lapang.

Jangan sampai kita hanya rajin berdoa ketika membutuhkan sesuatu, tetapi lalai bersujud ketika segala kebutuhan telah terpenuhi.


Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa bahwa kehidupan ini pada akhirnya akan kembali kepada Allah.

Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia.

Pada akhirnya, ada dua harapan yang selalu berada di hadapan kita.


Pertama, berharap kepada makhluk, yang kemampuannya terbatas, yang kehidupannya berubah-ubah, dan yang suatu saat akan meninggalkan kita.


Kedua, berharap kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kaya, Maha Mendengar, Maha Mengetahui, dan Maha Mengatur seluruh kehidupan.


Maka, pilihlah tempat bergantung yang tidak pernah mengecewakan.

Bukan berarti kita harus menjauhi manusia, tetapi jangan pernah menggantungkan seluruh kebahagiaan dan masa depan kita kepada manusia.


Boleh jadi pintu pertolongan terbuka melalui tangan seseorang. Namun, jangan lupa bahwa yang membuka pintu itu adalah Allah.


Boleh jadi rezeki datang melalui pekerjaan, perdagangan, jabatan, atau bantuan saudara. Namun, jangan lupa bahwa yang memberikan rezeki adalah Allah.


Boleh jadi kesulitan kita diselesaikan oleh seseorang. Namun, jangan lupa bahwa Allah-lah yang menakdirkan jalan keluarnya.

Jangan hanya berharap kepada tangan yang memberi. Berharaplah kepada Allah yang memiliki segala pemberian.


Semoga Allah menjadikan hati kita hati yang selalu bergantung kepada-Nya, bukan hati yang diperbudak oleh harapan kepada sesama manusia.


Semoga ketika dunia mengecewakan kita, kita tetap menemukan ketenangan dalam mengingat Allah.

Semoga ketika jalan terasa sempit, Allah membukakan jalan keluar dari arah yang tidak pernah kita sangka.


Jamaah Jumat rahimakumullah.

Sekali lagi, khatib mengingatkan diri pribadi dan seluruh jamaah, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Jangan pernah kehilangan harapan kepada Allah, sekalipun keadaan hidup sedang tidak sesuai dengan keinginan kita.


Jangan pernah merasa sendiri ketika menghadapi ujian, karena Allah senantiasa mengetahui keadaan hamba-Nya.


Jangan pernah berhenti berdoa, karena kita tidak pernah tahu doa yang mana dan pada waktu yang mana Allah akan membukakan pintu pertolongan-Nya.


Marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa, memohon kepada Allah agar hati kita senantiasa istiqamah dalam iman dan ketakwaan.



بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.


KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.


اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الظَّنِّ بِكَ، وَصِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ، وَقُوَّةَ الْإِيمَانِ بِكَ.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا إِلَى النَّارِ مَصِيرَنَا.

اللَّهُمَّ لَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَلَا إِلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ، وَتَوَلَّ أَمْرَنَا كُلَّهُ.

اللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَنَا، وَنَفِّسْ كُرُوبَنَا، وَاقْضِ دُيُونَنَا، وَاشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ مَوْتَانَا، وَاهْدِ أَوْلَادَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، وَافْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَفَضْلِكَ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Thursday, August 20, 2026

Khutbah Jumaat 2026: "Rabiul Awal, Refleksi Kemerdekaan, dan Bekal Pertanggungjawaban"

Khutbah Jumaat 2026: "Rabiul Awal, Refleksi Kemerdekaan, dan Bekal Pertanggungjawaban"


Oleh: Tgl. Ilham Misal, MA

Khotbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jamaah Sidang Jumat yang Dirahmati Allah,
Pertama-tama, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Ahlan wa sahlan ya Rabiul Awal... Selamat datang bulan kelahiran Rasulullah SAW yang ke-1501 menurut penanggalan Hijriah (atau ke-1455 Masehi), dan bulan yang mengingatkan kita pada 1437 tahun wafatnya beliau secara Hijriah (atau 1394 Masehi).

Assalamu’alaika ya Rasulullah...
Assalamu’alaika ya Habibullah...
Assalamu’alaika ya Nabiyullah...

Sidang Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,

Pada bulan Rabiul Awal ini, kita baru saja memperingati hari perdamaian Aceh yang ke-21 tahun, sekaligus memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81. Momentum ini berkumpul pada bulan kelahiran junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW. Ini merupakan nikmat besar yang sepatutnya kita syukuri sebagai anugerah agung dari Allah SWT.

Bagaimanakah cara kita mensyukurinya?

Rasulullah SAW adalah tokoh perdamaian dunia yang mengajarkan kita untuk hidup rukun dan damai. Islam adalah agama yang membawakan kedamaian (rahmatan lil 'alamin). Rasulullah SAW juga merupakan sosok yang sangat mencintai kemerdekaan, hingga beliau memperjuangkan kesetaraan dan mengikis habis perbudakan dari muka bumi.

Sebagai pengikutnya, menjaga kedamaian antar sesama dan mensyukuri nikmat kemerdekaan bangsa ini merupakan bagian nyata dari menghidupkan sunnah-sunnah beliau.

Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,
Dalam menyambut dan memuliakan bulan kelahiran Rasulullah SAW, ada 3 golongan manusia dalam mengekspresikan cintanya:

1. Golongan Pertama: Merekalah yang menyisihkan hartanya, menyajikan makanan, dan membagikannya kepada sesama melalui momentum kenduri maulid sebagai bentuk rasa syukur.

2. Golongan Kedua: Golongan yang memiliki tingkatan cinta lebih tinggi. Selain menyiapkan kenduri, mereka senantiasa membasahi lidah dan hatinya dengan shalawat, mengukir rasa mahabbah (cinta) melalui bait-bait pujian dan syair kenabian.

3. Golongan Ketiga (Tertinggi): Golongan yang memadukan kedua hal di atas dan melengkapinya dengan senantiasa menegakkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW. Apapun yang diperintahkan beliau akan dikerjakan, dan apapun yang dilarang akan ditinggalkan. Golongan inilah yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Jamaah yang Dimuliakan Allah,

Melalui momentum maulid tahun ini, marilah kita bertadabbur atas sebuah sabda Rasulullah SAW tentang pertanggungjawaban umur dan nikmat hidup kita kelak di padang mahsyar. Rasulullah SAW bersabda:

 لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيهِ

Artinya: "Tidak akan beranjak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang 4 perkara: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan ke mana ia belanjakan, serta tentang ilmunya bagaimana ia amalkan." (HR. Tirmidzi)

1. Umur yang Diberikan Digunakan untuk Apa?
Umur adalah modal utama manusia. Allah SWT berfirman:

"Apakah Kami tidak memperpanjang umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir?" (QS. Fatir: 37)

Kisah Teladan: Sahabat Umar bin Abdul Aziz rahimahullah memanfaatkan umurnya tanpa henti untuk melayani umat. Ketika diminta istirahat sejenak, beliau menjawab: "Jika aku tidur di siang hari, aku menelantarkan rakyatku. Jika aku tidur di malam hari, aku menelantarkan hubunganku dengan Allah. Bagaimana mungkin aku bisa tidur?"

2. Masa Muda Dihabiskan untuk Apa?
Masa muda adalah puncak kekuatan fisik dan pikiran.

Kisah Teladan: Usamah bin Zaid r.a. dipercaya oleh Rasulullah SAW untuk memimpin pasukan perang yang memuat sahabat-sahabat senior seperti Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. saat usianya baru 18 tahun. Masa muda pengikut Rasulullah digunakan untuk mengukir sejarah dan membela kebenaran, bukan disia-siakan dalam kelalaian.

3. Ilmu yang Dimiliki Digunakan untuk Apa?
Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk selalu memohon ilmu yang bermanfaat dan berlindung dari ilmu yang tidak berguna.

Kisah Teladan: Imam Ahmad bin Hanbal r.a. rela dipenjara dan disiksa demi mempertahankan kebenaran ilmu aqidah Islam. Bagi beliau, ilmu adalah amanah agama yang harus dijaga dan diamalkan, bukan sekadar alat mencari kedudukan duniawi.

4. Harta Didapatkan dari Mana dan Digunakan untuk Apa?
Satu-satunya pertanyaan yang membutuhkan dua jawaban pada hari kiamat adalah mengenai harta: sumbernya dan penggunaannya.

Kisah Teladan: Abu Bakar Ash-Siddiq r.a. mendonasikan seluruh hartanya untuk perjuangan Islam. Ketika Rasulullah SAW bertanya, "Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?" Beliau menjawab, "Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya." Harta yang bersih dan diinfakkan di jalan Allah akan menjadi naungan di hari kiamat.

Jamaah yang Dimuliakan Allah,

Marilah kita jadikan momentum Maulid Nabi Muhammad SAW ini untuk mengevaluasi diri (muhasabah), menjaga kedamaian, mengisi kemerdekaan dengan hal bermanfaat, serta mempersiapkan jawaban terbaik atas 4 pertanyaan di hari kiamat kelak.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khotbah Kedua: 

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلاَئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ.
فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ.
اللَّهُمَّ أَدِمِ الأَمْنَ وَالسَّلاَمَ فِي بَلَدِنَا إِنْدُونِيسِيَا وَفِي بَقَاعِ الأَرْضِ كُلِّهَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

Friday, July 10, 2026

Khutbah Juma'at: DALĀ'IL AL-KHAIRĀT Merawat Cinta kepada Rasulullah ﷺ dan Menghidupkan Kembali Warisan Ulama Aceh.

 Khutbah Juma'at: DALĀ'IL AL-KHAIRĀT

Merawat Cinta kepada Rasulullah ﷺ dan Menghidupkan Kembali Warisan Ulama Aceh. 

Oleh: Tgk. Ilham Misal, MA


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد...

Jamaah yang dimuliakan Allah SWT.

Izinkan saya memulai kajian ini dengan sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi mungkin jarang kita renungkan.

Masihkah hati kita mencintai Rasulullah ﷺ sebagaimana orang tua dan para ulama kita dahulu mencintai beliau?

Cinta bukan sekadar pengakuan di bibir. Cinta selalu meninggalkan jejak. Orang yang mencintai seseorang akan senang menyebut namanya, rindu mendengar kisahnya, dan berusaha mengikuti jalan hidupnya.

Lalu bagaimana dengan kita? Dalam sehari, berapa kali kita menyebut nama Rasulullah ﷺ dengan penuh kerinduan? Berapa kali lisan kita bershalawat kepada beliau? Jangan-jangan kita lebih sering menyebut nama manusia daripada nama Nabi yang telah membawa kita kepada cahaya Islam.

Padahal, kalau bukan karena Rasulullah ﷺ, kita tidak akan mengenal kalimat Lā ilāha illallāh. Kita tidak akan mengenal Al-Qur'an, salat, puasa, zakat, dan seluruh ajaran Islam. Beliaulah manusia yang paling berjasa bagi umat ini. Bahkan ketika menjelang wafat, yang keluar dari lisan beliau bukanlah harta, bukan pula kekuasaan, tetapi kalimat yang menggetarkan hati:

أُمَّتِي... أُمَّتِي...

"Umatku... umatku..."

Beliau memikirkan kita, sementara sering kali kita lupa mengingat beliau.

Jamaah yang dirahmati Allah.

Di Aceh, cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak hanya diajarkan melalui ceramah. Cinta itu diwariskan melalui tradisi. Salah satunya adalah membaca Dalā'il al-Khairāt.

Masih banyak di antara kita yang mengingat masa kecil ketika selepas Magrib atau Isya, meunasah dipenuhi suara para teungku, orang tua, dan pemuda yang bersama-sama melantunkan shalawat dari kitab Dalā'il al-Khairāt. Anak-anak duduk bersila mendengarkan, meskipun belum memahami seluruh maknanya. Namun dari suasana itulah tumbuh rasa hormat kepada ulama, kecintaan kepada masjid, dan kerinduan kepada Rasulullah ﷺ.

Hari ini, suasana seperti itu mulai jarang kita temukan. Bukan karena masyarakat Aceh tidak lagi mencintai Nabi, tetapi karena perubahan zaman membuat banyak tradisi perlahan memudar. Meunasah yang dahulu hidup dengan lantunan zikir dan shalawat, di sebagian tempat kini hanya ramai ketika waktu salat. Generasi muda mengenal banyak tokoh dari media sosial, tetapi belum tentu mengenal warisan ulama yang hidup di kampungnya sendiri.

Karena itulah, kajian ini bukan sekadar mengajak membaca sebuah kitab, tetapi mengajak menghidupkan kembali semangat mencintai Rasulullah ﷺ yang pernah menjadi identitas masyarakat Aceh.

Jamaah yang dimuliakan Allah.

Nama Dalā'il al-Khairāt berarti "Petunjuk Menuju Berbagai Kebaikan." Kitab ini disusun oleh seorang ulama besar dari Maroko, Imam Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli رحمه الله yang wafat pada tahun 870 Hijriah. Beliau dikenal sebagai seorang ulama, ahli fikih, sekaligus pecinta Rasulullah ﷺ.

Dalam kitab-kitab manaqib disebutkan bahwa suatu hari Imam al-Jazuli hendak berwudu, tetapi tidak mampu mengambil air dari sebuah sumur yang sangat dalam. Datanglah seorang gadis muda yang, dengan izin Allah, memudahkan air itu naik ke permukaan. Imam al-Jazuli bertanya, "Amalan apa yang membuat Allah memuliakanmu?" Gadis itu menjawab:

بِكَثْرَةِ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ

"Karena aku memperbanyak bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ."

Terlepas dari status kisah ini sebagai riwayat dalam manaqib, pesan yang dikandungnya sangat indah: shalawat telah menjadi amalan yang dicintai oleh orang-orang saleh sejak dahulu. Kisah itulah yang mendorong Imam al-Jazuli menyusun kumpulan shalawat yang kemudian dikenal dengan nama Dalā'il al-Khairāt.

Jamaah yang dirahmati Allah.

Mengapa para ulama begitu memuliakan shalawat? Karena Allah sendiri yang memerintahkannya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan." (QS. Al-Ahzab: 56).

Perhatikan ayat ini. Allah tidak langsung memerintahkan kita bershalawat. Allah terlebih dahulu mengabarkan bahwa Dia sendiri memuliakan Nabi-Nya, demikian pula para malaikat. Setelah itu, Allah mengajak orang-orang beriman untuk ikut serta dalam kemuliaan tersebut. Inilah salah satu ibadah yang memiliki kedudukan sangat tinggi di sisi Allah.

Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan keutamaannya:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

"Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan melimpahkan rahmat kepadanya sepuluh kali." (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan:

وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ، وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ

"Dihapuskan sepuluh dosanya dan diangkat sepuluh derajatnya." (HR. An-Nasa'i).

Masya Allah. Kita hanya menggerakkan lisan beberapa detik, tetapi Allah membalasnya dengan sepuluh rahmat, menghapus dosa, dan meninggikan derajat.

Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً

"Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku." (HR. At-Tirmidzi).

Siapa di antara kita yang tidak ingin dekat dengan Rasulullah ﷺ di hari ketika setiap manusia mencari pertolongan?

Jamaah yang dirahmati Allah.

Shalawat bukan sekadar bacaan. Shalawat adalah pendidikan hati. Orang yang memperbanyak shalawat akan semakin lembut hatinya, semakin mudah mencintai Al-Qur'an, semakin hormat kepada ulama, semakin damai menghadapi ujian, dan semakin rindu kepada Rasulullah ﷺ. Shalawat menghubungkan bumi dengan langit, menghubungkan seorang hamba dengan Nabinya, dan menjadi sebab turunnya rahmat Allah.

Barangkali inilah hikmah mengapa orang tua kita dahulu begitu menjaga bacaan Dalā'il al-Khairāt. Mereka tidak sekadar membaca sebuah kitab. Mereka sedang membangun peradaban. Mereka sedang menanam cinta kepada Rasulullah ﷺ di dalam hati anak-anaknya. Dari meunasah-meunasah itulah lahir generasi yang santun kepada guru, hormat kepada orang tua, dan bangga menjadi umat Nabi Muhammad ﷺ.

Jamaah yang dimuliakan Allah.

Hari ini, tugas itu berada di tangan kita. Jangan biarkan anak-anak kita hanya mengenal dunia, tetapi lupa kepada Nabinya. Jangan biarkan meunasah hanya menjadi tempat salat, tetapi kehilangan lantunan zikir dan shalawat. Jangan biarkan warisan ulama Aceh berhenti pada generasi kita.

Marilah kita hidupkan kembali bacaan Dalā'il al-Khairāt di meunasah, di rumah, di dayah, dan di majelis taklim. Bukan karena kita menganggap kitab ini wajib, tetapi karena ia merupakan salah satu sarana untuk memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ, sebuah amalan yang diperintahkan Allah dan dijanjikan pahala yang besar oleh Nabi-Nya.

Semoga dari Gampong Ujung Batee ini kembali bergema suara shalawat. Semoga anak-anak kita tumbuh dengan cinta kepada Rasulullah ﷺ. Semoga Aceh tetap menjadi Serambi Makkah, bukan hanya dalam sebutan, tetapi juga dalam amal, akhlak, dan tradisi keilmuannya.

اللهم اجعلنا من المكثرين من الصلاة والسلام على سيدنا محمد، وارزقنا حبه، وحب من يحبه، واحشرنا تحت لوائه، واسقنا من حوضه شربةً هنيئةً لا نظمأ بعدها أبداً، واجعل آخر كلامنا من الدنيا لا إله إلا الله محمد رسول الله. آمين يا رب العالمين.

Thursday, May 28, 2026

KHUTBAH JUM’AT: MENGHIDUPKAN HATI DENGAN SURAH YASIN.

KHUTBAH JUM’AT: MENGHIDUPKAN HATI DENGAN SURAH YASIN. 


Oleh: Tgk. Ilham Mirsal, MA

(Ayah Ilham). 


Khutbah Pertama

الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له…


Segala puji bagi Allah Rabbul ‘Alamin, yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai cahaya, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman. Shalawat dan salam ke atas junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, sahabat dan pengikut setia hingga hari kiamat.


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,


Di antara surah yang sangat dikenal dan dicintai oleh umat Islam adalah Surah Yasin. Surah ini memiliki kedalaman makna, kekuatan hujjah, dan kisah-kisah hikmah yang membangunkan hati.

Para ulama menyebutkan bahwa Yasin adalah jantung Al-Qur’an, sesuai riwayat:


إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا وَقَلْبُ الْقُرْآنِ يَسۤ

“Sesungguhnya segala sesuatu itu memiliki hati, dan hatinya Al-Qur’an adalah Surah Yasin.”


Dan pada riwayat lain disebutkan:


مَنْ قَرَأَ (يٰس) فِيْ لَيْلَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ غُفِرَ لَهُ

“Barang siapa membaca Yasin pada suatu malam dengan mengharap wajah Allah, maka akan diampuni baginya.” (HR. Ad-Darimi). 


Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه pernah berharap:


“Seandainya Surah Yasin itu tertanam kuat dalam hati setiap orang dari umatku.”


Ini menunjukkan betapa para sahabat sangat mengagumi kandungan surah ini dan ingin umat menjadikannya bagian dari kehidupan.


Hadirin yang dimuliakan Allah,

Surah Yasin bukan hanya tentang pahala dan amalan, tetapi juga isi dan pesannya sangat kuat, antara lain:


1. Kisah Habib an-Najjar


Dalam ayat 13–26, Allah kisahkan seorang lelaki beriman dari sebuah kota yang membela para rasul, menyeru kaumnya untuk kembali kepada tauhid, hingga ia wafat dalam keadaan beriman. Allah berfirman setelah ia gugur:


قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۖ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ


“Dikatakan kepadanya: Masuklah ke dalam surga. Ia berkata: Alangkah baiknya jika kaumku mengetahui.” (Yasin: 26).


Ini pelajaran tentang dakwah, pengorbanan, dan keikhlasan di jalan Allah.


2. Perlindungan Allah atas Kekasih-Nya. 


Dalam ayat 9 disebutkan bagaimana Allah mampu menghalangi penglihatan kaum musyrik, sebagaimana terjadi saat Rasulullah ﷺ dikepung oleh kaum Quraisy. Allah berfirman:


فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ

“…maka mereka tidak dapat melihat.”


Ini menjadi pelajaran bahwa siapa yang bersama Allah, tidak ada yang mampu mencelakakannya.


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kandungan Surah Yasin begitu luas. Namun, setidaknya ada hikmah praktis bagi kehidupan seorang muslim:


‌1. Mendapat pahala besar, karena membaca Al-Qur’an adalah ibadah.

‌2. Perantara ampunan dosa, sebagaimana dalam riwayat para ulama.

‌3. Memberikan ketenangan hati, karena Al-Qur’an adalah penyembuh jiwa.

‌4. Memudahkan hajat, sebagaimana amalan para salihin di berbagai negeri.

‌5. Meringankan sakaratul maut, berdasarkan pengalaman ulama salaf dalam mendampingi orang wafat.

‌7. Menguatkan iman, karena di dalamnya terdapat tauhid, kisah, peringatan, dan janji Allah.

‌8. Mengingatkan tentang hari kebangkitan dan akhirat, sehingga muslim tidak lalai.


Inilah mengapa Surah Yasin sering dijadikan amalan malam, dibaca pada majelis dzikir, untuk mendoakan jenazah, atau memperkuat rohani ketika menghadapi ujian hidup.


Hadirin yang dimuliakan Allah,

Surah Yasin juga menegaskan tauhid, menolak kemusyrikan, dan menguatkan risalah Nabi Muhammad ﷺ. Maka dari itu, membaca Yasin bukan hanya ritual, tetapi menghidupkan pesan Al-Qur’an dalam hidup:


‌Menjaga aqidah dan tauhid

‌Mengikuti risalah Nabi

‌Menjaga amal dan akhlak

‌Tidak terpedaya oleh dunia

‌Sadar akan kematian dan hisab


Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang dekat dengan Al-Qur’an, khususnya Surah Yasin, bukan hanya dibaca lisan, tetapi hidup dalam hati dan diamalkan dalam perbuatan. 


Kaum muslimin rahimakumullah,

Di kesempatan yang mulia ini, mari kita memohon kepada Allah agar diberikan kecintaan kepada Al-Qur’an, agar hati kita lembut, agar iman kita kokoh, dan agar amal kita diterima oleh Allah سبحانه وتعالى.


Marilah kita memperbanyak membaca Surah Yasin dan seluruh bagian Al-Qur’an, mengajarkannya kepada keluarga, serta menjadikannya jalan mendekat kepada Allah.


آمين.

أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم فاستغفروه…


Khutbah Kedua

الحمد لله، حمدًا كثيرًا كما أمر…


اللهم اجعل القرآن ربيع قلوبنا ونور صدورنا وجلاء أحزاننا…

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات…

عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان…

فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.


Sunday, May 24, 2026

Khutbah Jumaat Ramadhan: Memerdekakan Rohani dari Penjajahan Jasmani melalui Ibadah Puasa.

Memerdekakan Rohani dari Penjajahan Jasmani melalui Ibadah Puasa.



Oleh: Tgk. Ilham Mirsal, MA

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ الصِّيَامَ جُنَّةً مِنَ النَّارِ، وَسَبَبًا لِنَيْلِ الْفَوْزِ وَالْجَنَّةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah SWT,

Pertama-tama, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad SAW.

Jamaah yang Dimuliakan Allah,

Siapa yang Mengatur Hidup Kita?
Ada sebuah ungkapan bijak yang sering kali kita dengar dalam kehidupan sehari-hari: "Makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang."
Namun, mari kita renungkan sejenak secara jujur: selama ini, apa yang sebenarnya menggerakkan kita untuk makan dalam keseharian? Umumnya, kita akan menjawab spontan, "Ya, karena kita lapar."

Jika kita makan melulu hanya karena dorongan lapar, pertanyaannya: di manakah rasa lapar itu muncul? Jawabannya jelas, di perut kita. Lalu, atas perintah siapa sebenarnya kita melangkahkan kaki mencari makanan? Atas perintah perut kita sendiri.

Jika demikian polanya, maka manusia, makhluk mulia yang diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah di muka bumi, ternyata diam-diam telah tunduk, taat, dan terjajah oleh perutnya sendiri. Manusia diatur oleh perutnya, bukan manusia yang mengatur perutnya. Di sinilah terjadi ketimpangan, di mana aspek jasmani manusia menyetir aspek rohaninya; badan mengatur jiwanya.

Puasa sebagai Momentum Kemerdekaan

Jamaah Shalat Jumat yang Berbahagia,
Ibadah puasa yang diperintahkan oleh Allah SWT hadir sebagai sebuah revolusi spiritual untuk membalikkan keadaan terjajah tersebut. Puasa adalah momentum proklamasi kemerdekaan jiwa manusia. Ada tiga hal mendasar mengapa puasa disebut sebagai momentum kemerdekaan:

1. Menekan Jasmani, Mengedepankan Rohani.

Saat siang hari berpuasa, perut kita berteriak kelaparan dan tenggorokan terasa kering karena kehausan. Makanan dan minuman yang halal ada di depan mata kita, namun kita tidak serta-merta menyantapnya. Mengapa? Karena pada saat itu, kita sedang mengedepankan kendali rohani demi menekan syahwat jasmani.

2. Kemerdekaan Diri yang Hakiki.

Orang yang berpuasa adalah orang yang merdeka dalam arti yang sesungguhnya. Ia mampu melepaskan diri dari himpitan dan dikte kebutuhan biologisnya. Melalui puasa, kita seolah-olah berkata dengan tegas kepada kedirian kita:
"Aku yang mengaturmu wahai jasmaniku, bukan engkau yang menjajah dan mengatur aku!"

3. Memahami Substansi Puasa.

Puasa bukanlah sekadar ritual tahunan "ecek-ecek" atau rutinitas tanpa makna yang sekadar memindahkan jam makan dari Subuh ke Magrib. Substansi terdalam dari ibadah puasa adalah memerdekakan rohani dari belenggu jasmani, agar kita bisa meraih puncak kebahagiaan sejati. Kebahagiaan ini digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
"Bagi orang yang berpuasa mardapat dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika ia berbuka, dan kebahagiaan ketika ia berjumpa dengan Tuhannya." (HR. Bukhari & Muslim).

Tiga Tugas Utama Manusia dalam Eksistensinya.

Jika kita kaitkan dengan nilai-nilai keislaman dan eksistensi manusia, puasa mengembalikan kita pada tiga tugas utama penciptaan kita:

1. Memanusiakan Manusia (Insan).

Secara bahasa, kata Insan (إِنْسَان) di antaranya berakar dari kata yang mencerminkan kelemahlembutan, kepekaan, dan kasih sayang. Hakikat kemanusiaan yang penuh empati ini hanya bisa dicapai oleh manusia yang otonom dan independen, mereka yang jiwanya tidak dijajah oleh jasmaninya. Orang yang sanggup menahan laparnya ego, akan peka terhadap laparnya tetangga.

2. Mewujudkan Eksistensi sebagai Makhluk Terbaik.

Allah SWT berfirman mengenai awal mula penciptaan manusia:
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا
"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya..." (QS. Al-Baqarah: 31).

Ayat ini mengisyaratkan bahwa Adam diajarkan al-asma, yang dalam konteks modern mencakup entitas, algoritma, serta mindset (sistem berpikir). Manusia menjadi mulia dan dihormati oleh malaikat bukan karena kekuatan fisiknya, melainkan karena sistem berpikir, nalar, dan ketakwaannya.

Puasa membangun keteraturan sistem berpikir tersebut (management mindset). Kita belajar menggabungkan dua dimensi perjuangan sekaligus: Jihad Ashghar (jihad kecil, yaitu mencari nafkah dan bekerja keras secara fisik) dan Jihad Akbar (jihad besar, yaitu melawan hawa nafsu kedirian kita).

3. Kemampuan Beradaptasi dengan Nilai Moral.

Perbedaan mendasar antara manusia dengan hewan terletak pada nilai, etika, dan moralitas. Jika orientasi hidup kita dari pagi hingga malam hanya urusan isi perut dan di bawah perut, maka apa bedanya manusia dengan makhluk lainnya?

Manusia yang merdeka harus mampu beradaptasi dengan situasi spiritual: mengubah lapar menjadi ketenangan zikir, dan mengubah lelahnya raga menjadi semangat ibadah. Sejarah mencatat, Rasulullah SAW dan para sahabat meraih kemenangan besar dalam Perang Badar justru dalam keadaan berpuasa. Keterbatasan fisik tidak memperlemah mereka, karena rohani mereka telah merdeka dan diperkuat oleh Allah SWT.

Zaman yang Menjadikan Perut sebagai "Imam"

Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah,
Kita harus waspada, sebab ada sebuah peringatan keras dari Rasulullah SAW mengenai penyakit akhir zaman. Beliau menggambarkan suatu kondisi masyarakat yang rusak karena hilangnya kemerdekaan rohani. Rasulullah SAW bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ بٌطُونُهُمْ آلِهَتُهُمْ وَنِسَاؤُهُمْ قِبْلَتُهُمْ وَدَنَانِيرُهُمْ دِينُهُمْ وَشَرَفُهُمْ مَتَاعُهُمْ

"Akan datang suatu zaman kepada manusia, di mana perut-perut mereka menjadi tuhan-tuhan mereka (tujuan hidup hanya perut), wanita-wanita mereka menjadi kiblat mereka, dinar-dinar (harta) mereka menjadi agama mereka, dan kehormatan mereka adalah dunia mereka." (Dalam riwayat lain disebutkan: وَإِمَامُهُمْ بُطُوْنُهُمْ / "dan imam mereka adalah perut mereka").

Apapun profesi kita saat ini, baik sebagai pejabat, pedagang, dosen, petani, buruh, maupun dokter, jika orientasi dan tujuan akhir dari seluruh keringat yang keluar hanyalah demi memuaskan isi perut, maka kita sedang berada dalam ancaman kehancuran moral dan spiritual. Puasa hadir setahun sekali sebagai rem darurat untuk menyelamatkan kita dari kondisi yang memprihatinkan ini.

Penutup & Kesimpulan.

Sebagai kesimpulan khutbah kita pada hari ini, mari kita camkan baik-baik bahwa puasa adalah sebuah gerakan pembebasan. Ia adalah pembebasan rohani yang suci dari penjara jasmani yang fana.

Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita kesadaran kolektif, bahwa puasa adalah ibadah luar biasa yang langsung menghubungkan kita dengan Allah SWT melalui madrasah pengendalian diri yang hakiki.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَدْبُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيْمًا: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ صِيَامَنَا صِيَامًا مَقْبُوْلًا، وَقِيَامَنَا قِيَامًا مَقْبُوْلًا. اَللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى كَسْرِ شَهَوَاتِنَا، وَمُقَاوَمَةِ أَهْوَائِنَا، حَتَّى تَكُوْنَ رُوْحُنَا حُرَّةً طَاهِرَةً مُتَّصِلَةً بِكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ!

Thursday, May 21, 2026

Khutbah Jumaat Zulhijah 2026: MERAIH PAHALA HAJI, TANPA KETANAH SUCI.

Khutbah Jumaat Zulhijah 2026:

MERAIH PAHALA HAJI, TANPA KETANAH SUCI. 


Oleh: Tgk. Ilham Mirsal, MA. 


KHUTBAH PERTAMA. 


الْحَمْدُ لِلّٰهِ، الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَيَّامَ الْمَعْلُوْمَاتِ مَوْسِمًا لِلطَّاعَاتِ وَالْقُرُبَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِهِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّ بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.


Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah,


Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa. Hari ini, kita berada di hari-hari awal bulan Zulhijjah yang mulia, waktu di mana jutaan saudara kita dari seluruh penjuru dunia sedang mulai bersiap menuju Tanah Suci, memenuhi panggilan Nabi Ibrahim AS.


Di saat gema talbiyah mulai terdengar di Baitullah, bagi kita yang saat ini masih duduk di atas sajadah masjid ini, mungkin ada setitik rasa rindu yang menyesak di dada. Ada air mata yang jatuh karena belum terpanggil mencium Hajar Aswad, atau ada kesedihan karena tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun belum juga cukup untuk berangkat.


Ketahuilah, wahai hati yang merindu, Allah Maha Melihat niatmu. Jika raga belum sampai ke Tanah Suci, biarlah jiwa kita yang berthawaf dalam ketaatan. Sebab, Allah tidak hanya berada di Ka’bah, tapi Allah juga sangat dekat dengan hati hamba-hamba-Nya yang berserah diri.


Jamaah yang Dimuliakan Allah,


Mari kita merenungkan sebuah kisah indah yang sarat hikmah tentang seorang ulama besar, Abdullah bin Mubarak. Suatu ketika, setelah beliau menyelesaikan rangkaian ibadah haji, beliau tertidur di Masjidil Haram. Dalam mimpinya, beliau melihat dua malaikat turun dari langit dan saling bercakap.


Malaikat pertama bertanya, "Berapa banyak orang yang datang haji tahun ini?"

Malaikat kedua menjawab, "Enam ratus ribu orang."

"Lalu, berapa banyak yang diterima hajinya?" tanya malaikat pertama lagi.


Malaikat kedua menarik napas dalam dan berkata, "Tidak ada satupun yang diterima hajinya, kecuali satu orang. Ia adalah seorang tukang sol sepatu dari Damaskus bernama Muwaffaq. Padahal, ia sendiri tidak datang ke Mekkah tahun ini."


Terperanjatlah Abdullah bin Mubarak. Beliau segera menuju Damaskus untuk mencari siapa pria misterius ini. Setelah bertemu, Muwaffaq menceritakan rahasianya sambil menangis pilu:


"Tiga puluh tahun aku menabung dari hasil sol sepatu untuk pergi haji. Saat uang sudah terkumpul 300 dirham, istriku yang sedang hamil mencium bau masakan dari rumah tetangga. Aku pergi ke sana untuk meminta sedikit makanan, namun tetanggaku berkata dengan pilu: 'Wahai saudaraku, makanan ini halal bagi kami tapi haram bagimu. Anak-anakku sudah tiga hari tidak makan, maka aku terpaksa memasak bangkai keledai ini demi menyambung nyawa mereka.'"


Mendengar kondisi memilukan itu, bergetarlah hati Muwaffaq. Ia langsung menyerahkan seluruh uang tabungan hajinya kepada tetangga tersebut seraya berkata, "Gunakanlah uang ini untuk anak-anakmu. Hajiku ada di depan pintu rumahmu."


Jamaah Sekalian yang Berbahagia,


Inilah hikmah yang sangat agung. Terkadang, Allah menguji kita dengan menunda keberangkatan ke Baitullah, agar kita bisa melihat "Baitullah" yang lain dalam wujud manusia-manusia yang menderita di sekitar kita. Mengalahkan ego untuk mengejar gelar "Haji" demi menolong sesama yang kelaparan adalah ibadah yang luar biasa di sisi Allah. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma'un ayat 1-3:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ﴿١﴾ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ﴿٢﴾ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ ﴿٣﴾  


"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin."  


Jamaah yang Dimuliakan Allah,

Bagi kita yang belum berangkat ke Tanah Suci, Allah yang Maha Pemurah tidak menutup pintu rahmat-Nya. Melalui lisan Rasulullah SAW, Allah telah menyediakan "pintu-pintu darurat" amalan sosial maupun ritual yang nilainya setara dengan pahala haji dan umrah. Di antaranya adalah:


1. Berbakti kepada Kedua Orang Tua (Birrul Walidain)

Rasulullah SAW bersabda kepada seseorang yang ingin berjihad namun masih memiliki orang tua:

أَنْتَ حَاجٌّ وَمُعْتَمِرٌ وَمُجَاهِدٌ إِذَا بَرَرْتَ أُمَّكَ

"Engkau adalah orang yang melakukan haji, orang yang melakukan umrah, dan orang yang berjihad (jika engkau berbakti kepada ibumu)." (HR. Abu Ya’la).


2. Melaksanakan Shalat Wajib Berjamaah di Masjid

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ

"Siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci menuju shalat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji dalam keadaan ihram." (HR. Abu Dawud).


3. Berdzikir Setelah Shalat Subuh Berjamaah hingga Terbit Matahari (Shalat Isyraq)

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

"Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu shalat dua rakaat (Isyraq), maka ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna." (HR. Tirmidzi).


4. Menghadiri Majelis Ilmu di Masjid untuk Belajar atau Mengajar

Ini adalah amalan tambahan yang sangat besar pahalanya. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامٍّ حَجَّتُهُ

"Siapa yang berangkat ke masjid, tidak ada yang ia inginkan kecuali untuk mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang menunaikan haji secara sempurna." (HR. Thabrani).


5. Membantu dan Memenuhi Kebutuhan Saudara Sesama Muslim

Imam Hasan al-Basri menyatakan bahwa melangkah untuk memenuhi kebutuhan seorang saudara muslim itu lebih aku sukai daripada ibadah haji setelah haji (haji sunnah). Hal ini sejalan dengan spirit pengorbanan Sahabat Muwaffaq.


Oleh karena itu, di bulan Zulhijjah ini, janganlah kita berkecil hati. Momentum ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk menyembelih ego, menyembelih sifat kikir, dan menghidupkan rasa kemanusiaan dengan membantu sesama.


Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah,


Di akhir khutbah ini, mari kita yakinkan diri kita bahwa jalan menuju ridha Allah sangatlah luas. Jika tahun ini kita belum bisa memandang Ka'bah secara langsung, mari kita hiasi hari-hari sepuluh pertama Zulhijjah ini dengan memperbanyak takbir, tahmid, tahlil, sedekah, serta memperbanyak kepedulian kepada anak-anak yatim dan fakir miskin di sekitar kita. Mudah-mudahan Allah mencatat niat ikhlas kita setara dengan pahala ibadah haji yang mabrur.


Mari kita menundukkan kepala, memohon ampunan dan keberkahan dari Allah SWT:


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.



KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.

*اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِك عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. قَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.


اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ.

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا زِيَارَةَ بَيْتِكَ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ نَبِيِّكَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِلْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ مِرَارًا وَتِكْرَارًا بِفَضْلِكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَرْحَمُ الْعِبَادَ لِتَرْحَمَنَا فِي الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ!