Khutbah Juma'at: DALĀ'IL AL-KHAIRĀT
Merawat Cinta kepada Rasulullah ﷺ dan Menghidupkan Kembali Warisan Ulama Aceh.
Oleh: Tgk. Ilham Misal, MA
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
أما بعد...
Jamaah yang dimuliakan Allah SWT.
Izinkan saya memulai kajian ini dengan sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi mungkin jarang kita renungkan.
Masihkah hati kita mencintai Rasulullah ﷺ sebagaimana orang tua dan para ulama kita dahulu mencintai beliau?
Cinta bukan sekadar pengakuan di bibir. Cinta selalu meninggalkan jejak. Orang yang mencintai seseorang akan senang menyebut namanya, rindu mendengar kisahnya, dan berusaha mengikuti jalan hidupnya.
Lalu bagaimana dengan kita? Dalam sehari, berapa kali kita menyebut nama Rasulullah ﷺ dengan penuh kerinduan? Berapa kali lisan kita bershalawat kepada beliau? Jangan-jangan kita lebih sering menyebut nama manusia daripada nama Nabi yang telah membawa kita kepada cahaya Islam.
Padahal, kalau bukan karena Rasulullah ﷺ, kita tidak akan mengenal kalimat Lā ilāha illallāh. Kita tidak akan mengenal Al-Qur'an, salat, puasa, zakat, dan seluruh ajaran Islam. Beliaulah manusia yang paling berjasa bagi umat ini. Bahkan ketika menjelang wafat, yang keluar dari lisan beliau bukanlah harta, bukan pula kekuasaan, tetapi kalimat yang menggetarkan hati:
أُمَّتِي... أُمَّتِي...
"Umatku... umatku..."
Beliau memikirkan kita, sementara sering kali kita lupa mengingat beliau.
Jamaah yang dirahmati Allah.
Di Aceh, cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak hanya diajarkan melalui ceramah. Cinta itu diwariskan melalui tradisi. Salah satunya adalah membaca Dalā'il al-Khairāt.
Masih banyak di antara kita yang mengingat masa kecil ketika selepas Magrib atau Isya, meunasah dipenuhi suara para teungku, orang tua, dan pemuda yang bersama-sama melantunkan shalawat dari kitab Dalā'il al-Khairāt. Anak-anak duduk bersila mendengarkan, meskipun belum memahami seluruh maknanya. Namun dari suasana itulah tumbuh rasa hormat kepada ulama, kecintaan kepada masjid, dan kerinduan kepada Rasulullah ﷺ.
Hari ini, suasana seperti itu mulai jarang kita temukan. Bukan karena masyarakat Aceh tidak lagi mencintai Nabi, tetapi karena perubahan zaman membuat banyak tradisi perlahan memudar. Meunasah yang dahulu hidup dengan lantunan zikir dan shalawat, di sebagian tempat kini hanya ramai ketika waktu salat. Generasi muda mengenal banyak tokoh dari media sosial, tetapi belum tentu mengenal warisan ulama yang hidup di kampungnya sendiri.
Karena itulah, kajian ini bukan sekadar mengajak membaca sebuah kitab, tetapi mengajak menghidupkan kembali semangat mencintai Rasulullah ﷺ yang pernah menjadi identitas masyarakat Aceh.
Jamaah yang dimuliakan Allah.
Nama Dalā'il al-Khairāt berarti "Petunjuk Menuju Berbagai Kebaikan." Kitab ini disusun oleh seorang ulama besar dari Maroko, Imam Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli رحمه الله yang wafat pada tahun 870 Hijriah. Beliau dikenal sebagai seorang ulama, ahli fikih, sekaligus pecinta Rasulullah ﷺ.
Dalam kitab-kitab manaqib disebutkan bahwa suatu hari Imam al-Jazuli hendak berwudu, tetapi tidak mampu mengambil air dari sebuah sumur yang sangat dalam. Datanglah seorang gadis muda yang, dengan izin Allah, memudahkan air itu naik ke permukaan. Imam al-Jazuli bertanya, "Amalan apa yang membuat Allah memuliakanmu?" Gadis itu menjawab:
بِكَثْرَةِ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ
"Karena aku memperbanyak bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ."
Terlepas dari status kisah ini sebagai riwayat dalam manaqib, pesan yang dikandungnya sangat indah: shalawat telah menjadi amalan yang dicintai oleh orang-orang saleh sejak dahulu. Kisah itulah yang mendorong Imam al-Jazuli menyusun kumpulan shalawat yang kemudian dikenal dengan nama Dalā'il al-Khairāt.
Jamaah yang dirahmati Allah.
Mengapa para ulama begitu memuliakan shalawat? Karena Allah sendiri yang memerintahkannya.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan." (QS. Al-Ahzab: 56).
Perhatikan ayat ini. Allah tidak langsung memerintahkan kita bershalawat. Allah terlebih dahulu mengabarkan bahwa Dia sendiri memuliakan Nabi-Nya, demikian pula para malaikat. Setelah itu, Allah mengajak orang-orang beriman untuk ikut serta dalam kemuliaan tersebut. Inilah salah satu ibadah yang memiliki kedudukan sangat tinggi di sisi Allah.
Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan keutamaannya:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
"Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan melimpahkan rahmat kepadanya sepuluh kali." (HR. Muslim).
Dalam riwayat lain disebutkan:
وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ، وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ
"Dihapuskan sepuluh dosanya dan diangkat sepuluh derajatnya." (HR. An-Nasa'i).
Masya Allah. Kita hanya menggerakkan lisan beberapa detik, tetapi Allah membalasnya dengan sepuluh rahmat, menghapus dosa, dan meninggikan derajat.
Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً
"Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku." (HR. At-Tirmidzi).
Siapa di antara kita yang tidak ingin dekat dengan Rasulullah ﷺ di hari ketika setiap manusia mencari pertolongan?
Jamaah yang dirahmati Allah.
Shalawat bukan sekadar bacaan. Shalawat adalah pendidikan hati. Orang yang memperbanyak shalawat akan semakin lembut hatinya, semakin mudah mencintai Al-Qur'an, semakin hormat kepada ulama, semakin damai menghadapi ujian, dan semakin rindu kepada Rasulullah ﷺ. Shalawat menghubungkan bumi dengan langit, menghubungkan seorang hamba dengan Nabinya, dan menjadi sebab turunnya rahmat Allah.
Barangkali inilah hikmah mengapa orang tua kita dahulu begitu menjaga bacaan Dalā'il al-Khairāt. Mereka tidak sekadar membaca sebuah kitab. Mereka sedang membangun peradaban. Mereka sedang menanam cinta kepada Rasulullah ﷺ di dalam hati anak-anaknya. Dari meunasah-meunasah itulah lahir generasi yang santun kepada guru, hormat kepada orang tua, dan bangga menjadi umat Nabi Muhammad ﷺ.
Jamaah yang dimuliakan Allah.
Hari ini, tugas itu berada di tangan kita. Jangan biarkan anak-anak kita hanya mengenal dunia, tetapi lupa kepada Nabinya. Jangan biarkan meunasah hanya menjadi tempat salat, tetapi kehilangan lantunan zikir dan shalawat. Jangan biarkan warisan ulama Aceh berhenti pada generasi kita.
Marilah kita hidupkan kembali bacaan Dalā'il al-Khairāt di meunasah, di rumah, di dayah, dan di majelis taklim. Bukan karena kita menganggap kitab ini wajib, tetapi karena ia merupakan salah satu sarana untuk memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ, sebuah amalan yang diperintahkan Allah dan dijanjikan pahala yang besar oleh Nabi-Nya.
Semoga dari Gampong Ujung Batee ini kembali bergema suara shalawat. Semoga anak-anak kita tumbuh dengan cinta kepada Rasulullah ﷺ. Semoga Aceh tetap menjadi Serambi Makkah, bukan hanya dalam sebutan, tetapi juga dalam amal, akhlak, dan tradisi keilmuannya.
اللهم اجعلنا من المكثرين من الصلاة والسلام على سيدنا محمد، وارزقنا حبه، وحب من يحبه، واحشرنا تحت لوائه، واسقنا من حوضه شربةً هنيئةً لا نظمأ بعدها أبداً، واجعل آخر كلامنا من الدنيا لا إله إلا الله محمد رسول الله. آمين يا رب العالمين.





