Thursday, May 21, 2026

Khutbah Jumaat Zulhijah 2026: MERAIH PAHALA HAJI, TANPA KETANAH SUCI.

Khutbah Jumaat Zulhijah 2026:

MERAIH PAHALA HAJI, TANPA KETANAH SUCI. 


Oleh: Tgk. Ilham Mirsal, MA. 


KHUTBAH PERTAMA. 


الْحَمْدُ لِلّٰهِ، الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَيَّامَ الْمَعْلُوْمَاتِ مَوْسِمًا لِلطَّاعَاتِ وَالْقُرُبَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِهِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّ بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.


Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah,


Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa. Hari ini, kita berada di hari-hari awal bulan Zulhijjah yang mulia, waktu di mana jutaan saudara kita dari seluruh penjuru dunia sedang mulai bersiap menuju Tanah Suci, memenuhi panggilan Nabi Ibrahim AS.


Di saat gema talbiyah mulai terdengar di Baitullah, bagi kita yang saat ini masih duduk di atas sajadah masjid ini, mungkin ada setitik rasa rindu yang menyesak di dada. Ada air mata yang jatuh karena belum terpanggil mencium Hajar Aswad, atau ada kesedihan karena tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun belum juga cukup untuk berangkat.


Ketahuilah, wahai hati yang merindu, Allah Maha Melihat niatmu. Jika raga belum sampai ke Tanah Suci, biarlah jiwa kita yang berthawaf dalam ketaatan. Sebab, Allah tidak hanya berada di Ka’bah, tapi Allah juga sangat dekat dengan hati hamba-hamba-Nya yang berserah diri.


Jamaah yang Dimuliakan Allah,


Mari kita merenungkan sebuah kisah indah yang sarat hikmah tentang seorang ulama besar, Abdullah bin Mubarak. Suatu ketika, setelah beliau menyelesaikan rangkaian ibadah haji, beliau tertidur di Masjidil Haram. Dalam mimpinya, beliau melihat dua malaikat turun dari langit dan saling bercakap.


Malaikat pertama bertanya, "Berapa banyak orang yang datang haji tahun ini?"

Malaikat kedua menjawab, "Enam ratus ribu orang."

"Lalu, berapa banyak yang diterima hajinya?" tanya malaikat pertama lagi.


Malaikat kedua menarik napas dalam dan berkata, "Tidak ada satupun yang diterima hajinya, kecuali satu orang. Ia adalah seorang tukang sol sepatu dari Damaskus bernama Muwaffaq. Padahal, ia sendiri tidak datang ke Mekkah tahun ini."


Terperanjatlah Abdullah bin Mubarak. Beliau segera menuju Damaskus untuk mencari siapa pria misterius ini. Setelah bertemu, Muwaffaq menceritakan rahasianya sambil menangis pilu:


"Tiga puluh tahun aku menabung dari hasil sol sepatu untuk pergi haji. Saat uang sudah terkumpul 300 dirham, istriku yang sedang hamil mencium bau masakan dari rumah tetangga. Aku pergi ke sana untuk meminta sedikit makanan, namun tetanggaku berkata dengan pilu: 'Wahai saudaraku, makanan ini halal bagi kami tapi haram bagimu. Anak-anakku sudah tiga hari tidak makan, maka aku terpaksa memasak bangkai keledai ini demi menyambung nyawa mereka.'"


Mendengar kondisi memilukan itu, bergetarlah hati Muwaffaq. Ia langsung menyerahkan seluruh uang tabungan hajinya kepada tetangga tersebut seraya berkata, "Gunakanlah uang ini untuk anak-anakmu. Hajiku ada di depan pintu rumahmu."


Jamaah Sekalian yang Berbahagia,


Inilah hikmah yang sangat agung. Terkadang, Allah menguji kita dengan menunda keberangkatan ke Baitullah, agar kita bisa melihat "Baitullah" yang lain dalam wujud manusia-manusia yang menderita di sekitar kita. Mengalahkan ego untuk mengejar gelar "Haji" demi menolong sesama yang kelaparan adalah ibadah yang luar biasa di sisi Allah. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma'un ayat 1-3:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ﴿١﴾ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ﴿٢﴾ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ ﴿٣﴾  


"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin."  


Jamaah yang Dimuliakan Allah,

Bagi kita yang belum berangkat ke Tanah Suci, Allah yang Maha Pemurah tidak menutup pintu rahmat-Nya. Melalui lisan Rasulullah SAW, Allah telah menyediakan "pintu-pintu darurat" amalan sosial maupun ritual yang nilainya setara dengan pahala haji dan umrah. Di antaranya adalah:


1. Berbakti kepada Kedua Orang Tua (Birrul Walidain)

Rasulullah SAW bersabda kepada seseorang yang ingin berjihad namun masih memiliki orang tua:

أَنْتَ حَاجٌّ وَمُعْتَمِرٌ وَمُجَاهِدٌ إِذَا بَرَرْتَ أُمَّكَ

"Engkau adalah orang yang melakukan haji, orang yang melakukan umrah, dan orang yang berjihad (jika engkau berbakti kepada ibumu)." (HR. Abu Ya’la).


2. Melaksanakan Shalat Wajib Berjamaah di Masjid

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ

"Siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci menuju shalat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji dalam keadaan ihram." (HR. Abu Dawud).


3. Berdzikir Setelah Shalat Subuh Berjamaah hingga Terbit Matahari (Shalat Isyraq)

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

"Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu shalat dua rakaat (Isyraq), maka ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna." (HR. Tirmidzi).


4. Menghadiri Majelis Ilmu di Masjid untuk Belajar atau Mengajar

Ini adalah amalan tambahan yang sangat besar pahalanya. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامٍّ حَجَّتُهُ

"Siapa yang berangkat ke masjid, tidak ada yang ia inginkan kecuali untuk mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang menunaikan haji secara sempurna." (HR. Thabrani).


5. Membantu dan Memenuhi Kebutuhan Saudara Sesama Muslim

Imam Hasan al-Basri menyatakan bahwa melangkah untuk memenuhi kebutuhan seorang saudara muslim itu lebih aku sukai daripada ibadah haji setelah haji (haji sunnah). Hal ini sejalan dengan spirit pengorbanan Sahabat Muwaffaq.


Oleh karena itu, di bulan Zulhijjah ini, janganlah kita berkecil hati. Momentum ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk menyembelih ego, menyembelih sifat kikir, dan menghidupkan rasa kemanusiaan dengan membantu sesama.


Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah,


Di akhir khutbah ini, mari kita yakinkan diri kita bahwa jalan menuju ridha Allah sangatlah luas. Jika tahun ini kita belum bisa memandang Ka'bah secara langsung, mari kita hiasi hari-hari sepuluh pertama Zulhijjah ini dengan memperbanyak takbir, tahmid, tahlil, sedekah, serta memperbanyak kepedulian kepada anak-anak yatim dan fakir miskin di sekitar kita. Mudah-mudahan Allah mencatat niat ikhlas kita setara dengan pahala ibadah haji yang mabrur.


Mari kita menundukkan kepala, memohon ampunan dan keberkahan dari Allah SWT:


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.



KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.

*اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِك عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. قَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.


اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ.

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا زِيَارَةَ بَيْتِكَ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ نَبِيِّكَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِلْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ مِرَارًا وَتِكْرَارًا بِفَضْلِكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَرْحَمُ الْعِبَادَ لِتَرْحَمَنَا فِي الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ!

Wednesday, December 31, 2025

KHUTBAH JUMAT: ISRA’ MI’RAJ DAN PERBAIKAN SHALAT KITA.

KHUTBAH JUMAT: ISRA’ MI’RAJ DAN PERBAIKAN SHALAT KITA. 


Oleh: Tgk. Ilham Mirsal, MA


KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي مَنَّ عَلَيْنَا بِأَشْهُرٍ حُرُمٍ عِظَامٍ، وَجَعَلَ الصَّلَاةَ مِعْرَاجًا لِلْمُؤْمِنِ إِلَى رَبِّ الْأَنَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خَيْرُ مَنْ صَلَّى وَصَامَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.


Hadirin Sidang Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,

Puji dan syukur kita persembahkan ke hadirat Allah SWT yang telah memperjalankan waktu hingga kita kembali berada di bulan Rajab yang mulia. Shalawat beserta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, Rasul yang telah menembus tujuh lapis langit demi membawa risalah agung bagi umat manusia.


Hadirin yang Dirahmati Allah,

Setiap kali bulan Rajab menyapa, ingatan kita selalu tertuju pada satu mukjizat besar, yaitu Isra’ Mi’raj. Sebuah perjalanan melintasi ruang dan waktu, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra' ayat 1:


سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ


"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami..."


Jamaah yang Berbahagia,

Mengapa peristiwa ini sangat penting dalam khutbah kita hari ini? Karena di bulan Rajab inilah Nabi Muhammad SAW menerima perintah Shalat Lima Waktu. Berbeda dengan ibadah lain seperti zakat, puasa, atau haji yang perintahnya cukup turun melalui malaikat Jibril, perintah shalat mengharuskan Nabi SAW "menghadap" langsung kepada Allah.


Ini menunjukkan bahwa shalat adalah inti dari segala ibadah. Jika bulan Rajab adalah bulan menanam, maka benih paling utama yang harus kita tanam adalah perbaikan kualitas shalat kita.

Ada tiga hal yang perlu kita renungkan mengenai shalat kita di bulan Rajab ini:


1. Shalat adalah Mi'rajnya Orang Beriman


Sebagaimana Nabi SAW melakukan Mi'raj bertemu Allah, para ulama menyebutkan: Ash-shalaatu mi'raajul mu'miniin (Shalat adalah mi’rajnya orang-orang beriman). Saat kita bertakbir Allahu Akbar, kita seharusnya meninggalkan dunia di belakang punggung kita dan menghadapkan hati sepenuhnya kepada Allah. Sudahkah shalat kita menjadi tempat beristirahatnya jiwa, ataukah hanya sekadar beban rutinitas?


2. Shalat sebagai Benteng Akhlak


Dunia hari ini penuh dengan fitnah dan kemaksiatan yang luar biasa. Allah menjanjikan dalam Al-Qur'an:


إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar." (QS. Al-Ankabut: 45).


Jika kita sudah shalat namun masih gemar berbuat maksiat, masih suka memfitnah, atau masih berani memakan harta yang haram, maka ada yang salah dengan "ruh" shalat kita. Rajab adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki gerakan dan kekhusyukan shalat tersebut.


3. Shalat adalah Kunci Keberkahan Hidup

Banyak orang mengeluh rezekinya sempit, keluarganya tidak harmonis, dan hatinya tidak tenang. Di bulan Rajab ini, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kunci ketenangan adalah shalat. Beliau pernah bersabda kepada Bilal bin Rabah: "Ya Bilal, arihnaa bish-shalaah" (Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat).


Hadirin yang Dimuliakan Allah,

Jangan biarkan Rajab berlalu hanya dengan peringatan seremonial semata. Mari kita buktikan cinta kita kepada Nabi SAW dengan memperbaiki hubungan kita kepada Allah melalui jalur shalat. Jadikan shalat berjamaah di masjid sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban yang terpaksa.


Semoga di bulan Rajab yang mulia ini, Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu, memberkahi setiap sujud kita, dan menyampaikan usia kita hingga ke bulan Ramadhan dalam keadaan iman yang semakin kuat.


بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.


KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.


Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,


Marilah kita tutup khutbah ini dengan doa. Ingatlah, Rajab adalah salah satu waktu di mana doa-doa diijabah oleh Allah SWT. Mari kita memohon agar hati kita dilembutkan untuk senantiasa taat dan dijauhkan dari kelalaian.


اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ.

اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.


Tuesday, August 19, 2025

Khutbah Jumat: "Jangan Sia-siakan Akal, Anugerah Terbesar dari Allah"

 Khutbah Jumat: "Jangan Sia-siakan Akal, Anugerah Terbesar dari Allah"

Oleh: Tgk. Ilham Misal, MA


Khutbah Pertama

الحمد لله الذي كرَّم الإنسان بالعقل، وشرَّفه بالعلم والإيمان، وجعل العقل نورًا يهتدي به إلى سبيل الرشاد.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه أجمعين، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم Shift.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Hari ini marilah kita renungkan nikmat akal, anugerah besar yang Allah titipkan kepada manusia. Dengan akal, manusia bisa memahami ajaran agama, membedakan benar dan salah, serta menimbang baik dan buruk. Tanpa akal, manusia tidak berbeda dengan makhluk lain, bahkan bisa lebih rendah dari hewan yang hanya mengikuti nalurinya.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan pada pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Āli ‘Imrān: 190).

Imam al-Ghazali rahimahullah pernah berkata dalam Ihya Ulumiddin:

“Akal adalah modal utama manusia. Dengan akal manusia mengenal Allah, dengan akal manusia memahami agama. Maka siapa yang menyia-nyiakan akalnya, ia telah meruntuhkan agamanya sendiri.”

Betapa dalam kata-kata Imam al-Ghazali ini, jamaah sekalian. Akal bukan hanya untuk dunia, tapi juga untuk jalan menuju akhirat.

Namun sayangnya, banyak manusia yang tidak mensyukuri nikmat akal. Mereka merusaknya dengan mabuk, narkoba, pergaulan bebas, dan dosa-dosa besar lainnya. Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:


كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

“Setiap yang memabukkan adalah khamar, dan setiap khamar itu haram.” (HR. Muslim)


Ma’asyiral Muslimin,


Ibnu Khaldun rahimahullah dalam Muqaddimah-nya menulis:


“Akal adalah cahaya yang diletakkan Allah dalam diri manusia. Dengan akal, manusia mampu membedakan maslahat dan mafsadat, serta mampu mengatur kehidupan bermasyarakat.”


Maka jelaslah, bila akal digunakan dengan baik, ia menjadi cahaya kehidupan. Tetapi bila akal disalahgunakan, ia menjadi sebab kehancuran diri dan masyarakat.


Diriwayatkan pula sebuah kisah dari Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Ketika seorang pemuda dijatuhi hukuman karena maksiat, ia ditanya: “Mengapa engkau sampai berbuat demikian?” Pemuda itu menjawab: “Karena aku biarkan nafsuku mengalahkan akalku.” Umar menangis, lalu berkata: “Inilah akibat bila akal dipenjara, sementara nafsu dilepaskan.”


Benar sekali, jamaah sekalian. Akal adalah pemimpin, nafsu adalah pengikut. Jika akal tunduk pada nafsu, manusia jatuh hina. Tetapi jika akal dipandu oleh wahyu, manusia menjadi mulia, bahkan lebih mulia dari malaikat.


Khutbah Kedua


الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.


Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,


Akal adalah amanah. Kelak di hari kiamat, setiap manusia akan ditanya bagaimana ia menggunakan akalnya. Rasulullah ﷺ bersabda:


لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا عَمِلَ بِهِ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جَسَدِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ

“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya untuk apa diamalkan, hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tubuhnya untuk apa digunakan.” (HR. at-Tirmidzi)

Para ulama menegaskan, siapa yang tidak menggunakan akalnya untuk mendekat kepada Allah, maka akalnya akan menjadi saksi yang menuntutnya di hari kiamat.

Karena itu, mari kita syukuri nikmat akal dengan cara:

‌Menuntut ilmu untuk mempertajam akal.

‌Menjauhi yang merusak akal, seperti mabuk dan narkoba.

‌Menggunakan akal untuk tadabbur ciptaan Allah agar iman bertambah.

‌Mengendalikan hawa nafsu dengan akal yang dipandu oleh wahyu.


Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata:


“Barangsiapa yang menggunakan akalnya tanpa wahyu, ia akan tersesat. Dan barangsiapa mengikuti wahyu tanpa akal, ia akan tergelincir. Maka akal dan wahyu harus berjalan bersama.”

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Semoga kita semua menjadi hamba yang bersyukur atas nikmat akal, menjaganya, dan menggunakannya untuk kebaikan dunia dan kebahagiaan akhirat.


اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات.

اللهم اجعل عقولنا عاملةً بالحق، وقلوبنا خاشعةً لك، وألسنتنا ذاكرةً لك، وأعمالنا صالحةً ترضيك يا رب العالمين.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.


عباد الله، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Thursday, July 24, 2025

Khutbah Jumaat, Akir Muharram & Awal Shafar Akibat Melupakan Hak Allah: Empat Penyakit dalam Menghantui Kehidup Manusia

 “Akibat Melupakan Hak Allah: Empat Penyakit dalam Menghantui Kehidup Manusia”


Tgk. Ilham Misal, MA


Khutbah Pertama


الحمد لله الذي خلق الإنسان ليعبده، وجعل الغاية من الحياة تحقيق العبودية لوجهه الكريم، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه أجمعين.


أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللهِ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى رَأْسُ الْخَيْرِ وَطَرِيقُ السَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى:


﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ﴾

(الأحزاب: 70)


معاشر المسلمين رحمكم الله،


Di zaman yang serba cepat ini, banyak manusia yang melupakan hak Allah Ta’ala dalam hidupnya. Mereka sibuk mengejar dunia, namun lupa pada Pencipta dunia. Mereka rajin bekerja, tapi lalai dari ibadah. Mereka berharap berkah, tapi lupa kepada yang Maha Memberi Berkah.


Ketahuilah wahai saudara-saudara seiman, ketika kita melupakan hak Allah, maka akan tertanam dalam diri kita empat penyakit yang sangat berbahaya, yang membuat hidup kita sempit, gelisah, dan jauh dari kebahagiaan.


Pertama: Rezeki yang tidak berkecukupan


Meskipun gaji besar, penghasilan banyak, namun tetap merasa kurang dan sempit. Ini bukan karena rezekinya sedikit, tapi keberkahannya yang hilang.

قَالَ اللهُ تَعَالَى:

﴿ وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا ﴾

(طه: 124)

"Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit."


Kedua: Kesibukan yang tidak pernah selesai


Waktu terasa sempit, tugas menumpuk, hati tidak tenang. Padahal, semua itu karena kita tidak meletakkan Allah sebagai pusat kehidupan.


قَالَ سُبْحَانَهُ:

﴿ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ﴾

(الكهف: 28)


Sibuk tanpa tujuan ilahiah hanya akan melelahkan badan dan menggelapkan hati.


Ketiga: Kesusahan yang tiada ujung


Masalah datang bertubi-tubi, hati gelisah, batin kosong. Itu karena hati yang jauh dari Allah akan dipenuhi kesusahan dan kegelapan.

قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:

"مَنْ جَعَلَ هُمُومَهُ هَمًّا وَاحِدًا، هَمَّ الْمَعَادِ، كَفَاهُ اللهُ هُمُومَ دُنْيَاهُ، وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ فِي أَحْوَالِ الدُّنْيَا، لَمْ يُبَالِ اللهُ فِي أَيِّ أَوْدِيَتِهَا هَلَكَ"

(رواه ابن ماجه)


"Barang siapa menjadikan akhirat sebagai satu-satunya urusan besar dalam hidupnya, maka Allah akan cukupkan urusan dunianya. Tapi barang siapa disibukkan oleh urusan dunia, maka Allah tidak peduli di lembah mana dia binasa."


Keempat: Menderita atas nikmat orang lain


Penyakit hati bernama hasad (dengki) menjalar karena hati tidak terisi syukur. Ketika melupakan Allah, hati akan selalu melihat ke atas, dan merasa tersiksa melihat orang lain senang.


قَالَ اللهُ تَعَالَى:

﴿ وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ ﴾

(طه: 131)

وَقَالَ:

﴿ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ ﴾

(الجمعة: 4)


Ma’asyiral muslimin yang dirahmati Allah,


Empat penyakit ini tidak akan sembuh dengan obat apotek. Obatnya hanya satu: kembali kepada Allah. Menunaikan hak-Nya. Ibadah tepat waktu. Dzikir. Membaca Al-Qur’an. Bersyukur. Bertobat.


قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:

"احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ"

(رواه الترمذي)


"Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan dapati Allah di hadapanmu."


Saudaraku yang dirahmati Allah,


Marilah kita menunaikan hak-hak Allah:

‌Dirikan shalat tepat waktu.

‌Bersyukur atas nikmat sekecil apapun.

‌Bertobat atas segala kelalaian.

‌Bersihkan hati dari iri dan dengki.


Hidup akan lebih tenang jika Allah ada dalam hati kita.


فَاتَّقُوا اللهَ عِبَادَ اللهِ، وَلَا تَكُونُوا مِمَّنْ نَسُوا اللهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ، أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ.


Khutbah Kedua


الحمد لله، الحمد لله الذي أمر بذكره، ووعد من شكره، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلى الله عليه وسلم، أما بعد:


عباد الله، أوصيكم ونفسي المقصرة أولًا بتقوى الله، فقد قال الله سبحانه:


﴿ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ ﴾

(النحل: 128)

Doa Penutup (Khatimah):


اللَّهُمَّ رُدَّنَا إِلَيْكَ رَدًّا جَمِيلًا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يُحِبُّونَ ذِكْرَكَ، وَيَشْكُرُونَ نِعْمَتَكَ، وَيَقُومُونَ بِحُقُوقِكَ، وَتَوَلَّ أُمُورَنَا كُلَّهَا، وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.


عباد الله، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.


Saturday, July 5, 2025

Abah Tgk. H. Mohd. Yunus At-Thaiby Ulama Karismatik Aceh yang Mengayomi Umat dengan Ilmu dan Cinta

 Abah Tgk. H. Mohd. Yunus At-Thaiby

Ulama Karismatik Aceh yang Mengayomi Umat dengan Ilmu dan Cinta. 


Oleh: Ayah Ilham

Latar Belakang

Abah Tgk. H. Mohd. Yunus At-Thaiby lahir di Gampong Ladang Tuha, Kecamatan Pasie Raja, Aceh Selatan, pada tanggal 22 Agustus 1945. Beliau merupakan murid senior Abuya Jalaini Musa, pimpinan Dayah Darussa’adah, Kotafajar. Tahun 1959, beliau resmi mondok di Darussa’adah, termasuk dalam angkatan kedua setelah Abuya menetap di sana.

Di masa mondok, Abah tergolong santri paling menonjol. Kelas beliau termasuk kelas inti yang hanya mampu diajar oleh dua guru utama, yakni Abu Daud Teupin Gajah dan Tgk. Tarmizi Meulaboh, yang dikenal sebagai “otak komputer” karena kepintarannya. Abah belajar selama empat tahun bersama Abu Daud hingga akhirnya mereka sebangku dalam kelas Dewan Guru asuhan langsung Abuya Jalaini Musa, termasuk saat melanjutkan ke Blang Bladeh Bireuen.

Ketika para guru senior satu per satu berpindah, Abuya sempat mengumpulkan santri untuk mencari siapa yang layak mengisi kelas Abah. Tak seorang pun berani. Hingga akhirnya Abuya sendiri menunjuk beliau:

“Nyoe meunan gata Tgk. Yunus gantoe uloen”, kata Abuya.

Dengan berlinang air mata, Abah menerima amanah itu sambil menjawab penuh harap pada doa gurunya:

“Insya Allah, nyoe na sabe, Abu sajan loen.”

Sejak saat itu, Abah menjadi tangan kanan Abuya Jalaini Musa, bahkan mengajar santri seangkatannya maupun kakak leting.

Perjalanan Pendidikan dan Santri-Santri Kader

Tahun 1963–1969, Abah melanjutkan pendidikan di Dayah Al-Madinatuddiniyah Babussalam Blang Bladeh Bireuen di bawah asuhan Al-Mukarram Abu TU (Tgk. H. Muhammad Amin). Di sini pun beliau menjadi murid tua sekaligus guru senior.

Beberapa murid ulama yang lahir dari didikan beliau antara lain:

  • ‌Tgk. H. Mustafa Ahmad (Abu Paloh Gadeng)
  • Tgk. Nasruddin bin Ahmad
  • Tgk. Abu Yazid Al-Yusufi (Abon Blang Pidie)
  • Tgk. Iklil (putra beliau, pimpinan Dayah Madinatuddiniyah Jabal Rahmah Tapaktuan)
  • Tgk. Khaermen Elvey Thaiby (putra beliau, pimpinan Dayah Madinatuddiniyah Jabal Makmur).
  • Tgk. Sainusi Alyusufi (Dayah Ihya Ulumuddin Terbangan).
  • Tgk. Mahyuddin (Dayah Madinatuddiniyah Al-Anshar Jeumpa Abdya).
  • m. Tgk. Sumardi (Dayah Madinatuddiniyah Nurul Hidayah Pante Raja).
  • Tgk. Riswadi (Sinabang Simeulue)

dan banyak lagi.


Kiprah Mendirikan Pendidikan

Sekembalinya ke kampung halaman, Abah mendedikasikan diri untuk membangun pendidikan Islam:

  • ‌Dayah Ihya Ulumuddin (1982) di Ladang Tuha
  • Dayaah Madinatuddiniyah Jabal Makmur (1991) di Pucok Krueng
  • Dayah Terpadu Madinatuddiniyah Jabal Rahmah (2004) di Tapaktuan, yang memadukan pendidikan umum modern dan pendidikan salaf.

Masing-masing lembaga ini melahirkan banyak kader ulama, pendidik, dan pemimpin umat.

Peran di Pemerintahan dan Politik

Abah menjadi rujukan utama pemerintah Aceh Selatan dalam berbagai kebijakan keagamaan, termasuk sebagai pengasuh Majelis Taklim Pendopo Bupati untuk kalangan ASN dan DPRK.

Beliau juga menjabat sebagai anggota MPU Aceh, Komisi B (Pendidikan, Litbang, dan Ekonomi Umat), selama beberapa periode.

Dalam karier politik, beliau terpilih menjadi anggota DPRK Aceh Selatan periode 1999–2004 dari Partai Abulyatama.

Wafatnya Sang Ulama

Pada Minggu malam, 6 Agustus 2017, sekitar pukul 24.00 WIB, Abah berpulang ke rahmatullah di RSU Zainal Abidin Banda Aceh. Berita duka menyebar cepat, umat berbondong-bondong memenuhi komplek Dayah Jabal Rahmah untuk mengantarkan beliau ke peristirahatan terakhir.

Umat kehilangan sosok pengayom penuh cinta, guru yang tegas namun penyayang, ulama karismatik yang selalu hadir menenangkan umat.

Semoga Allah SWT menerima segala amal beliau, melipatgandakan pahala atas semua ilmu yang beliau ajarkan, dan menempatkan beliau di surga-Nya yang mulia. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Catatan Hitam Yazid dalam Sejarah Islam

 Ketika Dunia Menipu: Catatan Hitam Yazid dalam Sejarah

Oleh: Ayah Ilham

“Betapa buruknya hamba dunia: jika diberi ia rakus, jika tak diberi ia marah. Dunia itu manis dan hijau, tapi ia hanya fatamorgana bagi orang-orang yang terpedaya.”
— (Makna hadits riwayat Bukhari-Muslim)

Dalam sejarah Islam, ada banyak pemimpin yang mencatatkan namanya dengan tinta emas karena ketakwaan, keadilan, dan pengorbanan untuk umat. Namun tak sedikit pula yang hanya menyisakan noda hitam dalam lembar sejarah. Salah satu nama yang paling sering disebut sebagai simbol kezaliman dan cinta dunia adalah Yazid bin Mu‘awiyah.

Yazid naik takhta pada tahun 60 Hijriah menggantikan ayahnya, Mu‘awiyah bin Abi Sufyan. Pemerintahannya tidak lama, hanya sekitar tiga tahun, namun penuh dengan peristiwa besar dan kelam bagi umat Islam: terbunuhnya cucu Nabi ﷺ, penyerbuan kota Madinah, hingga pengepungan dan pembakaran Ka‘bah. Dunia memang memberinya singgasana, tetapi hanya sekejap sebelum Allah runtuhkan semuanya — sebagai peringatan bagi umat manusia.

Kekuasaan yang Menipu

Yazid lahir di tengah keluarga bangsawan Quraisy. Ayahnya adalah sahabat Nabi ﷺ dan gubernur Syam yang kemudian menjadi khalifah. Sejak kecil ia terbiasa dengan kemewahan istana, perburuan, musik, minuman keras — sebagaimana banyak riwayat menyebutkan kebiasaan buruknya. Ketika Mu‘awiyah wafat, rakyat Syam menyatakan bai‘at kepada Yazid, tetapi banyak sahabat besar menolak, termasuk Husain bin Ali, Abdullah bin Zubair, dan Abdullah bin Umar.

Sejak saat itulah darah mulai tumpah karena syahwat kekuasaan.

Tragedi Karbala: Noda Tak Terhapus

Tahun 61 H, cucu kesayangan Rasulullah ﷺ, Sayyidina Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, bersama keluarganya dibantai di Karbala oleh pasukan yang dikirim dari pihak Yazid. Meski ia sendiri tidak hadir di medan perang, ia adalah khalifah yang memerintahkan dan membiarkan pembunuhan itu terjadi. Sejarah Islam mencatat bahwa peristiwa ini mengguncang hati umat Islam sepanjang masa. Darah Husain menjadi saksi bahwa cinta dunia dan ambisi politik bisa membutakan nurani.

Al-Harrah dan Ka‘bah yang Terbakar

Tak lama setelah itu, pada tahun 63 H, warga Madinah memberontak menolak kekhalifahan Yazid. Pasukan Yazid menyerbu kota suci itu, membunuh ribuan orang termasuk sahabat Nabi, memperkosa wanita-wanita mulia, bahkan merampok rumah-rumah. Tragedi ini dikenal sebagai Peristiwa Al-Harrah. Belum cukup sampai di situ, pasukannya juga mengepung Mekah untuk melawan Abdullah bin Zubair, sampai-sampai Ka‘bah rusak terkena peluru manjaniq dan terbakar sebagian.

Akhir yang Hina

Hanya tiga tahun lebih Yazid bertahta, dunia yang ia genggam dengan angkuh lenyap. Ia wafat secara tiba-tiba di Hawarin, Syam, pada usia sekitar 38–39 tahun, dengan meninggalkan nama buruk dan umat yang terpecah belah. Jenazahnya bahkan ditolak sebagian rakyatnya sendiri.

“Orang yang mencintai dunia, akan binasa bersamanya. Orang yang mencintai akhirat, dunia akan melayaninya.”

Pelajaran untuk Umat

Sejarah Yazid adalah peringatan keras bahwa dunia hanyalah tipuan. Kekuasaan, harta, dan kehormatan duniawi bisa menjadi jebakan yang membinasakan siapa saja yang terpedaya. Meski Yazid memimpin negeri kaum Muslimin, tapi cintanya kepada dunia membuatnya lalai dari amanah agama.

Kita belajar bahwa:

  • ‌Pemimpin yang zalim selalu meninggalkan kehinaan di dunia, apalagi di akhirat.
  • Cinta pada keluarga Nabi (Ahlul Bait) adalah kewajiban setiap Muslim.
  • Dunia hanyalah ujian, bukan tujuan.

Penutup

Hari ini nama Yazid tinggal catatan hitam. Sementara nama Husain terus harum dikenang sebagai simbol kebenaran, keberanian, dan pengorbanan. Sejarah tidak pernah salah mencatat siapa yang menipu dan siapa yang tertipu.

Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat Yazid: cinta dunia, zalim terhadap umat, dan lalai pada akhirat. Dan semoga kita semua diberi keberanian untuk meneladani Husain, meski harus menghadapi dunia yang beringas.

“Dunia itu perhiasan yang fana, dan sebaik-baik perhiasan adalah hati yang bertakwa.”