Memerdekakan Rohani dari Penjajahan Jasmani melalui Ibadah Puasa.
Oleh: Tgk. Ilham Mirsal, MA
KHUTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ الصِّيَامَ جُنَّةً مِنَ النَّارِ، وَسَبَبًا لِنَيْلِ الْفَوْزِ وَالْجَنَّةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah SWT,
Pertama-tama, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad SAW.
Jamaah yang Dimuliakan Allah,
Siapa yang Mengatur Hidup Kita?
Ada sebuah ungkapan bijak yang sering kali kita dengar dalam kehidupan sehari-hari: "Makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang."
Namun, mari kita renungkan sejenak secara jujur: selama ini, apa yang sebenarnya menggerakkan kita untuk makan dalam keseharian? Umumnya, kita akan menjawab spontan, "Ya, karena kita lapar."
Jika kita makan melulu hanya karena dorongan lapar, pertanyaannya: di manakah rasa lapar itu muncul? Jawabannya jelas, di perut kita. Lalu, atas perintah siapa sebenarnya kita melangkahkan kaki mencari makanan? Atas perintah perut kita sendiri.
Jika demikian polanya, maka manusia, makhluk mulia yang diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah di muka bumi, ternyata diam-diam telah tunduk, taat, dan terjajah oleh perutnya sendiri. Manusia diatur oleh perutnya, bukan manusia yang mengatur perutnya. Di sinilah terjadi ketimpangan, di mana aspek jasmani manusia menyetir aspek rohaninya; badan mengatur jiwanya.
Puasa sebagai Momentum Kemerdekaan
Jamaah Shalat Jumat yang Berbahagia,
Ibadah puasa yang diperintahkan oleh Allah SWT hadir sebagai sebuah revolusi spiritual untuk membalikkan keadaan terjajah tersebut. Puasa adalah momentum proklamasi kemerdekaan jiwa manusia. Ada tiga hal mendasar mengapa puasa disebut sebagai momentum kemerdekaan:
1. Menekan Jasmani, Mengedepankan Rohani.
Saat siang hari berpuasa, perut kita berteriak kelaparan dan tenggorokan terasa kering karena kehausan. Makanan dan minuman yang halal ada di depan mata kita, namun kita tidak serta-merta menyantapnya. Mengapa? Karena pada saat itu, kita sedang mengedepankan kendali rohani demi menekan syahwat jasmani.
2. Kemerdekaan Diri yang Hakiki.
Orang yang berpuasa adalah orang yang merdeka dalam arti yang sesungguhnya. Ia mampu melepaskan diri dari himpitan dan dikte kebutuhan biologisnya. Melalui puasa, kita seolah-olah berkata dengan tegas kepada kedirian kita:
"Aku yang mengaturmu wahai jasmaniku, bukan engkau yang menjajah dan mengatur aku!"
3. Memahami Substansi Puasa.
Puasa bukanlah sekadar ritual tahunan "ecek-ecek" atau rutinitas tanpa makna yang sekadar memindahkan jam makan dari Subuh ke Magrib. Substansi terdalam dari ibadah puasa adalah memerdekakan rohani dari belenggu jasmani, agar kita bisa meraih puncak kebahagiaan sejati. Kebahagiaan ini digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
"Bagi orang yang berpuasa mardapat dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika ia berbuka, dan kebahagiaan ketika ia berjumpa dengan Tuhannya." (HR. Bukhari & Muslim).
Tiga Tugas Utama Manusia dalam Eksistensinya.
Jika kita kaitkan dengan nilai-nilai keislaman dan eksistensi manusia, puasa mengembalikan kita pada tiga tugas utama penciptaan kita:
1. Memanusiakan Manusia (Insan).
Secara bahasa, kata Insan (إِنْسَان) di antaranya berakar dari kata yang mencerminkan kelemahlembutan, kepekaan, dan kasih sayang. Hakikat kemanusiaan yang penuh empati ini hanya bisa dicapai oleh manusia yang otonom dan independen, mereka yang jiwanya tidak dijajah oleh jasmaninya. Orang yang sanggup menahan laparnya ego, akan peka terhadap laparnya tetangga.
2. Mewujudkan Eksistensi sebagai Makhluk Terbaik.
Allah SWT berfirman mengenai awal mula penciptaan manusia:
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا
"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya..." (QS. Al-Baqarah: 31).
Ayat ini mengisyaratkan bahwa Adam diajarkan al-asma, yang dalam konteks modern mencakup entitas, algoritma, serta mindset (sistem berpikir). Manusia menjadi mulia dan dihormati oleh malaikat bukan karena kekuatan fisiknya, melainkan karena sistem berpikir, nalar, dan ketakwaannya.
Puasa membangun keteraturan sistem berpikir tersebut (management mindset). Kita belajar menggabungkan dua dimensi perjuangan sekaligus: Jihad Ashghar (jihad kecil, yaitu mencari nafkah dan bekerja keras secara fisik) dan Jihad Akbar (jihad besar, yaitu melawan hawa nafsu kedirian kita).
3. Kemampuan Beradaptasi dengan Nilai Moral.
Perbedaan mendasar antara manusia dengan hewan terletak pada nilai, etika, dan moralitas. Jika orientasi hidup kita dari pagi hingga malam hanya urusan isi perut dan di bawah perut, maka apa bedanya manusia dengan makhluk lainnya?
Manusia yang merdeka harus mampu beradaptasi dengan situasi spiritual: mengubah lapar menjadi ketenangan zikir, dan mengubah lelahnya raga menjadi semangat ibadah. Sejarah mencatat, Rasulullah SAW dan para sahabat meraih kemenangan besar dalam Perang Badar justru dalam keadaan berpuasa. Keterbatasan fisik tidak memperlemah mereka, karena rohani mereka telah merdeka dan diperkuat oleh Allah SWT.
Zaman yang Menjadikan Perut sebagai "Imam"
Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah,
Kita harus waspada, sebab ada sebuah peringatan keras dari Rasulullah SAW mengenai penyakit akhir zaman. Beliau menggambarkan suatu kondisi masyarakat yang rusak karena hilangnya kemerdekaan rohani. Rasulullah SAW bersabda:
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ بٌطُونُهُمْ آلِهَتُهُمْ وَنِسَاؤُهُمْ قِبْلَتُهُمْ وَدَنَانِيرُهُمْ دِينُهُمْ وَشَرَفُهُمْ مَتَاعُهُمْ
"Akan datang suatu zaman kepada manusia, di mana perut-perut mereka menjadi tuhan-tuhan mereka (tujuan hidup hanya perut), wanita-wanita mereka menjadi kiblat mereka, dinar-dinar (harta) mereka menjadi agama mereka, dan kehormatan mereka adalah dunia mereka." (Dalam riwayat lain disebutkan: وَإِمَامُهُمْ بُطُوْنُهُمْ / "dan imam mereka adalah perut mereka").
Apapun profesi kita saat ini, baik sebagai pejabat, pedagang, dosen, petani, buruh, maupun dokter, jika orientasi dan tujuan akhir dari seluruh keringat yang keluar hanyalah demi memuaskan isi perut, maka kita sedang berada dalam ancaman kehancuran moral dan spiritual. Puasa hadir setahun sekali sebagai rem darurat untuk menyelamatkan kita dari kondisi yang memprihatinkan ini.
Penutup & Kesimpulan.
Sebagai kesimpulan khutbah kita pada hari ini, mari kita camkan baik-baik bahwa puasa adalah sebuah gerakan pembebasan. Ia adalah pembebasan rohani yang suci dari penjara jasmani yang fana.
Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita kesadaran kolektif, bahwa puasa adalah ibadah luar biasa yang langsung menghubungkan kita dengan Allah SWT melalui madrasah pengendalian diri yang hakiki.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَدْبُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيْمًا: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ صِيَامَنَا صِيَامًا مَقْبُوْلًا، وَقِيَامَنَا قِيَامًا مَقْبُوْلًا. اَللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى كَسْرِ شَهَوَاتِنَا، وَمُقَاوَمَةِ أَهْوَائِنَا، حَتَّى تَكُوْنَ رُوْحُنَا حُرَّةً طَاهِرَةً مُتَّصِلَةً بِكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ!





